Catatan: KangMunzir

noe letto

DINGIN. Kesan pertama saya terhadap anak semata wayang Emha Ainun Nadjib; Sabrang Mowo Damar Panuluh. Kala itu, ia masih kecil. Seumuran anak SD. Ia tinggal di Metro, Lampung, bersama ibunya, Neneng Suryaningsih.

Jika libur sekolah tiba, ia bersama ayahnya menghabiskan waktu di Yogyakarta. Karena saya sendiri ikut tinggal di rumah ayahnya, sudah barang tentu saya juga sangat dekat dengannya. Saya sering mengantar kesana kemari di Yogya untuk sekedar jalan-jalan mengelilingi kota.

Meskipun kesannya dingin, Sabrang suka sekali usil. Yang tidak pernah saya lupakan tatkala saya antar ke Stasiun Tugu Yogyakarta. Tempat ini yang paling disukai Sabrang. Ia cinta banget sama kereta api. Di malam hari, kami mengelilingi seluruh sudut stasiun. Gerbong-gerbong kereta satu persatu dimasuki. Tiba-tiba ia menghilang. Ia lepas dari perhatian saya. Saya sangat ketakutan. Bagaimana saya harus mempertanggungjawabkan kepada ayahnya. Selama dua jam saya cari kesana kemari di sekitar stasiun. Hampir putus asa dibuatnya. Tiba-tiba ia muncul sambil tertawa terbahak-bahak. Ternyata ia ngumpet masuk salah satu gerbong yang memang gelap. Saat saya masuk ke tempat persembunyian, secara diam-diam ia menyingkir ke gerbong lainnya.

Tatkala suatu masa saya tinggal di Bandar Lampung, Sabrang sempat mengunjungi saya. Saya ajak jalan dan saya antar pulang ke Metro. Saking seringnya jalan bareng, saya tahu makanan favoritnya; Sate Ayam Bumbu Kacang. Mungkin satenya bisa saja diganti yang lain, tapi bumbu kacang itu, jangan. Mungkin lebih tepatnya, sambal kacangnya yang disuka. Maka ketika berangkat kuliah ke Kanada, Novia Kolopaking, ibu tirinya, menyediakan bumbu kacang instan berbung-bungkus. [Ibu Kami, eyang uti-nya Sabrang di Metro juga membuatkan secara khusus 'bumbu pecel' itu. Sangat banyak orang-orang dekat yang sangat menyayangi. Catatan tambahan: penulis]

Sampai kemudian proses pembentukan Letto, meskipun saya sudah tinggal di Jakarta, saya tetap mensuportnya. Beberapa lagu Letto untuk demo, aku minta. Sampai saat inipun, tatakala habis pentas live di telivisi, saya sering sms mengomentari penampilannya. Kadang saya bilang: “Fals.” Di saat lain kalau memang bagus, saya bilang ok.

Pesan saya, tetap seperti Sabrang yang saya kenal sejak kecil. Tetap rendah hati terhadap siapapun saja.[]

Cipete Dalam, Maret 2009

*)Tulisan ini diminta oleh Toto Rahardjo untuk melengkapi pengantar dan penutup Buku Saku “Paseduluran Tanpa Tepi” tasyakuran pernikahan Sabrang – Uchi, 26 Maret 2009 di Monjali, Jogjakarta.