Soundwafe: Titik Nadir Kreatifitas
Oleh: Sabrang Mowo Damar Panuluh

Noe Letto/RollingStone Indonesia
Beberapa waktu lalu, sebelum menulis artikel ini, saya sempat bertanya pada salah satu dari Rolling Stone, “Apa boleh kalau saya nulis kata ‘fuck’ di majalah ini?” Mulut saya tanpa sadar juga tersenyum lebar sambil mata menerawang membayangkan hal-hal yang bisa dituangkan dalam tulisan dalam merangkai makna musik dan fuck.
Fuck
Dalam ranah bahasa Inggris kata ‘fuck’ mempunyai properti luar biasa yang tak dimiliki oleh kata-kata lain. Kalau kita ngomong “the F word”, pastilah yang dimaksud kata-kata tersebut, meskipun ada puluhan ribu kata lain yang dimulai dengan huruf F. Dalam pengunaan sehari-hari, kata “Fuck” mempunyai arti yang sangat bermacam-macam. Kalau Anda pernah baca komik Smurf, Anda pasti familiar dengan percakapan diantara mereka dimana seringkali kata-kata kuncinya digantikan dengan kata “Smurf”. Contohnya : “ngantuk banget nih, pengen smurf dulu”. Ide dasarnya seperti itu.
Untuk memberi gambaran lebih jauh, ada beberapa contoh lain tentang penggunaan kata ini. Putus asa, ”Ah fuck it”, bingung,”what the fuck?” memberi penekanan pada arti sebuah kata, ”un-fucking-believeable”, ngusir, ”fuck off”, putus asa, risau, kecemasan,”fuckityfuckfuck” dan seterusnya banyak lagi.
Semestinya, pemahaman kata “fuck” pada ranah bahasa Inggris memberi jalan analogi untuk melihat posisi musik dalam ranah sebuah peradaban. Dari segi definisi, musik mempunyai banyak versi. Dari asal kata mousa (Yunani) yang dalam bahasa Inggris menjadi muse, musik dianggap sebagai sebentuk noise yang terorganisir yang mampu menginspirasi. Dari sisi fungsi, musik memiliki banyak interpretasi. Ada yang berpendapat bahwa musik adalah refleksi dari peradaban dalam bentuk seni dan pengetahuan. Ada juga yang memfungsikan musik sebagai media untuk mengamplifikasi nuansa dari sebuah poin atau cerita yang ingin disampaikan. Prekonsepsi umum yang ada sekarang adalah meletakkan musik sebagai sebuah objek untuk hiburan dan penghidupan tentunya. Tidak ada yang salah, merely different point of views.
Pada dasarnya musik mempunyai potensi yang luar biasa untuk bisa menjadi multi fungsi, multi arti dan multi interpretasi (seperti kata “Fuck”).
Ada bentuk musik yang lahir dari ketertekanan dan marginalisasi, katakanlah Blues dan Rap. Arti musik berevolusi dari outlet kefrustasian, menjadi sebentuk emblem dari sebuah komunitas, kemudian menjadi corong untuk menyuarakan suara komunitas tersebut dan akhirnya ketika mendapat tempat di masyarakat menjadikannya sebuah lapangan industri yang baru.
Industri hiburan
Ada lagi bentuk nyanyian yang melarang nada meloncat terlalu jauh, bahkan melimitasi harmoni, dengan argumentasi holistic. Bukan tanpa alasan, musik jenis ini melahirkan glorius Gregorian yang terdengar megah dan menenangkan jiwa.
Di beberapa contoh yang dituliskan, musik tumbuh melalui tahapan-tahapan dan argumentasi yang jelas untuk berkembang secara konseptual. Yang lahir adalah musik dengan ruh. Ditambah lagi dengan apresiasi pendengar yang mampu dan mau menghargai pertumbuhannya, musik bisa menjadi sebuah bentuk seni dengan ekses ekonomi yang sangat diperhitungkan.
Lalu apa yang akan terjadi kalau musik melewati tahapan yang terbalik ? Dari harapan ekses ekonomi sehingga melahirkan karya musik? (dengan berandai-andai). Musik yang seperti ini adalah musik yang patuh kepada ruh industri. Sehingga lahirlah istilah trend dengan segala macam anatominya. Sebagai orang Indonesia pasti kita sangat familiar dengan set-up seperti ini.
Pertanyaan berikutnya, burukkah itu ?
In my f****** humble opinion, belum tentu. Saya tidak mengatakan saya mendukung 100% bahwa arah musik harus mengikuti trend. Tetapi kondisi sosiologi seperti ini pasti akan menstimulasi para pelakunya untuk bereaksi. Dan reaksi-reaksi ini lah yang berfungsi menjadi bahan dasar atau mentah untuk sebuah expresi seni yang lebih berkembang. Dan ini pastinya menarik untuk ditunggu outputnya. Apakah kita bisa menyaksikan sebuah titik nadir arus musik dengan ruh sales? kita tunggu.
Syarat utama agar proses ini terus berjalan manusiawi hanya ada dua:
Pertama, sebagai musisi, harus memastikan bahwa dalam berproses kreatif kita mampu menarik garis yang jelas dan keras antara inspirasi dan mencontek. Ini sangat penting karena proses terinspirasi akan membawa kita berkembang ke arah kreatifitas, dan mencontek akan justru mematikan alam kreatifitas tersebut.
Kedua, adanya jaminan fairplay, penghargaan yang seimbang antara para pengkarya seni dan penikmat seni. To the point, yang punya kapasitas ini adalah pemerintah. Pemerintah seharusnya mampu menjamin bahwa tak ada hak dari para pengkarya seni yang terabaikan.
Kata kuncinya Haps Pembajakan
Pembunuhan ekses ekonomi dari karya seni secara lambat laun akan membunuh karya seni tersebut, bahkan lebih jauh, para senimannya. Peradaban tanpa seni adalah kering. Pemerintah tanpa kemampuan menjamin akan lebih pantas disebut panitia.
Sudah lama para musisi hanya bisa bilang,”fuck it”. Semoga tahun 2009 ini tidak merubah komentar itu menjadi,”F*** You.”
Sumber: RollingStone Indonesia/26/02/2009
Sabrang Mowo Damar Panuluh, dikenal sebagai Noe Letto, vokalis Band Letto.
14 tanggapan kepada “Noe Letto “Soundwave: Titik Nadir Kreatifitas””
Athar
Juli 25th, 2009 pada 15:51
sangat menikmati tulisan ini.
Bravo, Sabrang!!!
fuck!!!
tjontOng
Juli 25th, 2009 pada 15:56
ini tulisan lama, 4 bulan lalu…
thanks bro..!!
Rachmat Arumbinang
Juli 26th, 2009 pada 03:28
Mungkinkah pembajakan karya musik dimulai dr musisi sendiri?? Lho kok gitu??… ya krn bnyk musisi yg memproduksi karya musik hanya atas pertimbangan pasar saja.Mk tak heran ketika pasar memberlakukan hukum rimbanya[bc:pembajakan]pr musisi kelimpungan sendiri. Yah….hukum alam….
tjontong
Juli 26th, 2009 pada 05:00
tengkiyu pak mat..!
entah1982
Juli 27th, 2009 pada 05:16
fuck tenan……
ijin untuk copi fuckste
fuck it!
Juli 27th, 2009 pada 14:45
monggo den, silaken…! saya juga ngopy..
Bunda Sabrang
Juli 30th, 2009 pada 07:27
nice post…
apa yang ada di tulisan ini sering jadi bahan obrolan dengan suami saya.
Banyak hal yang jadi penyebabnya tapi banyak cara dan kesempatan bisa kita lakukan untuk mencegahnya. Asal kita mau, asal kita satu.
tetap semangat untuk berkarya, mas…
Om-nya Sabrang
Juli 31st, 2009 pada 03:01
terima kasih bu Tika. salam untuk anak semata wayangnya: Lanang Sabrang Baruna Aji…
IWAN W
Agustus 3rd, 2009 pada 05:20
OK!!! Manusia Indonesia memang sudah lama dan menikmati kondisi dimana ‘otak’ cuma buat ‘isen-isen’ kepala, kreativitas jd sebuah pekerjaan yang terlalu rumit n idealis u disungguh-sungguhi.
tjontong
Agustus 3rd, 2009 pada 15:59
tengkyu bung iwan..
Ana Nurul
Oktober 19th, 2009 pada 12:20
wah…
menena tulisannya…
cah Gambang syafaat
Desember 24th, 2009 pada 16:08
em, masuk akal juga. ok, saya tunggu artikel selanjutnya. dunia ini memang udah berputar – putar tidak karuan.
MANSYUR BUSTOMI
Juli 24th, 2010 pada 03:10
itu yang pakai topi SIAPA NYA NOE sih ?
Kaya Orang Penting…….aja , pakai jawab jawab segala….
Aneh….!!1
Munzir Madjid
Agustus 12th, 2010 pada 14:00
itu tulisan saya angkat lagi di blog saya, kebetulan yg komen kebanyakan kawan2 JM (Jamaah Maiyah); komunitasnya Cak Nun, secara pribadi saya kenal yg komen.
Noe, proses pindah sekolah, melanjutkan ke Jogja dari Metro, kebetulan saya ikut ngurus. Guru Ngajinya, juga dulu saya yang antar dari Jogja ke Metro.
Salam Maiyah…!
1 Trackbacks / Pingbacks
Soundwafe: Titik Nadir Kreatifitas : hanya seorang suporter Juli 27th, 2009 pada 05:24
[...] copas dari sini Oleh: Sabrang Mowo Damar Panuluh Beberapa waktu lalu, sebelum menulis artikel ini, saya sempat [...]