Makmum Rasulullah
Berita itu sangat mengagetkan. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, Selasa pagi, Bogor, 23 November 2010; Heru Yuwono (lahir di Banjarnegara, 19 Juli 1958) kembali ke rumah-Nya.
Emha Ainun Nadjib, salah seorang sahabatnya; menulis pesan untuk disebarkan: “Masyarakat Maiyah kehilangan pejuang terbaiknya. Allah SWT menguji kita semua dengan rahasia kesekian dari misteri iradahNya. Pakde HERU YUWONO. Konseptor Maiyah, Sesepuh Kenduri Cinta, pengabdi koperasi Nusantara. Dipanggil pulang ke rumahNya pagi ini, 23 November 2010.”
Duka ini masih membekas. Saya sendiri tidak bisa ikut mengantar sampai ke liang lahat. Dari kawan-kawan yang ikut takziyah menyaksikan dengan kalimat yang saya sendiri mengiyakan: “Beliau sudah bermakmum di belakang Rasulullah.”
Tahun-tahun reformasi, tatkala awal-awal Emha bergiat mensosialisasikan shalawat, Mas Heru sering hadir dalam forum-forum bersama Mas Uki Bayu Sedjati, sahabatnya. Dan berlanjut terus sampai akhir hayatnya. Menjelang kepergiannya bisa dibilang sangat intens. Pemikirannya, konsep-konsepnya; menjadi topik yang menyegarkan bagi jamaah Kenduri Cinta.
Beliau boleh dibilang sebagai sosok yang tak terlihat di “belakang panggung” bagi kegiatan Kenduri Cinta. Sangat loman (ikhlas) membatu secara materi. Banyak pos-pos kegiatan Kenduri Cinta ditanggung dengan suka rela.
bersambung
