TakziahRendra
Takziah Budaya
:Untuk WS Rendra

WS Rendra
Hari ini, Kamis 13 Agustus 2009 pukul 19.30 [atau Jumat dalam hitungan hijriyah], tepat tujuh hari WS Rendra berangkat untuk abadi menemui Sang Kekasih. Sahabat-sahabat yang merindukan berkumpul di halaman Gedung RRI Pusat, jalan Merdeka Barat, Jakarta.
Atas prakarsa berbagai pihak, dan didukung penuh oleh Departemen Komunikasi Dan Informatika – Departemen Kebudayaan Dan Pariwisata, Takziah Budaya: Untuk Kemuliaan Manusia Wahyu Sulaiman dan Kebesaran Seniman Rendra, didedikasikan.

Takziyah Budaya
Aku teringat, malam hari seusai acara penguburan WS Rendra, Jumat 7 Agustus 2009, aku diperlihatkan puisi terakhir WS Rendra dalam bentuk foto copy oleh sahabatku –yang telah tiga bulan secara rutin tiap malam menunggu WS Rendra terkulai lemas di rumah sakit.
Aku baca puisinya, sangat dalam dan menyentuh. Kerinduan seorang Rendra kepada Tuhannya. Di lantai 5 RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, Rendra secara perlahan mengucap kata demi kata di sisi Adi Kurdi, adik iparnya, lalu Adi Kurdi menuliskannya. Setelah selesai, Rendra membubuhkan tanda tangan.
Puisi tertanggal 31 Juli 2009 belum sempat diberi judul. Barangkali justru menguatkan nilai puisi itu sendiri:
Aku lemes
tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal
Aku pingin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
tapi tubuhku tidak memuaskan untuk
punya posisi yang ideal dan wajar
Aku pingin membersihkan tubuhku
dari racun kimia
Aku ingin kembali kepada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah
Tuhan aku cinta padaMU
WS RENDRA
31 July 2009
Mitra Keluarga
_____
Cipete Dalam, 13 Agustus 2009
Catatan: KangMunzir