Review: Minggu Pagi di Victoria Park

Sengaja saya tak menulis tentang film Minggu Pagi di Victoria Park tatkala film ini sudah tayang. Biarkanlah “bayi” ini menjadi milik siapa saja. Silakan digendong, dicubit atau dibelai. Ia bayi mungil yang cakap (baca: rupawan) dan sangat layak siapapun mencintainya.

copyright: @Pic[k]Lock Productions

Gambar di atas adalah Lola Amaria, selaku sutradara merangkap pemain, membaur dengan calon TKW/TKI di BLK Gempol.

TKW HK

Benar, saya pekewuh nulis panjang-panjang. Di bawah ini ada beberapa testimoni yang bisa disimak (mohon maaf kepada semua penulis, lewat blog ini saya minta izin).

Kesaksian Ega

Matahari Pagi

Film Yang Cantik

Iklan

Nabi Membakar Masjid

Nabi Membakar Masjid
Oleh: Muhammad Ainun Nadjib

RASULULLAH Muhammad SAW pernah memerintahkan sejumlah petugasnya untuk membakar sebuah masjid, karena beliau menemukan bahwa kecenderungan pada “Takmir Masjid” dan komunitas yang melingkupinya membuat masjid itu lebih merupakan tempat kemunafikan dan pemecah-belah kesatuan, dengan berbagai manipulasi dan kemunkaran, sehingga adanya masjid itu menimbulkan mudharat lebih besar dibanding manfaatnya.

Illustrasi dari Bill Moyers Journal
Coba kita ambil pelajaran, satu poin saja dulu, dari kejadian itu. Misalnya, tidak bisa kita memahaminya dengan pola pandang modern dengan sistem dan konstitusi kenegaraan seperti yang kita anut sekarang. Di zaman kepemimpinan Rasulullah di Madinah, beliau adalah pusat keadilan, pusat nurani, dan pusat kebenaran, yang dipercaya. Orang percaya sepenuhnya kepada beliau, sehingga beliau diridhai orang banyak untuk menjadi pusat pengambilan keputusan.

Rasulullah bisa disebut diktator atau otoriter andaikata beliau tidak dipercaya rakyat, serta apabila beliau memaksakan suatu keputusan yang umat menilai ada kemunkaran pada keputusan itu. Tetapi belum pernah ada buku sejarah menyebut Muhammad SAW sebagai seorang yang otoriter, karena memang umat percaya dan rela. Padahal secara sistem, konstitusi dan hukum sebagaimana yang kita pahami sekarang, Rasulullah tidak punya hak atau kewenangan untuk mengambil keputusan dan tindakan seperti itu: Rasulullah melanggar HAM dan konstitusi.

Di dunia modern, tidak ada manusia yang bisa dipercaya oleh orang banyak, apalagi dipercaya sampai tingkat, kadar dan cinta masyarakat memercayai Muhammad s.a.w. Kalau orang tidak saling percaya, maka mereka sama-sama berkepentingan untuk membikin aturan, hukum, konstitusi, transaksi, konvensi, atau apa pun namanya dan konteksnya. Orang mendirikan pagar bersama karena dikhawatirkan sewaktu-waktu akan ada, entah siapa, yang melanggar batas. Di zaman ini orang memerlukan perlindungan norma dan hukum, karena sesama manusia tidak ada kemungkinan saling mempercayai dan mempercayakan secara nurani untuk mendapatkan perlindungan satu sama lain.

Anda bisa berkata: “Saya tidak perduli dan tidak mempelajari hukum. Tanpa pasal-pasal hukum pun saya tidak mencuri, tidak akan melakukan korupsi, mo-limo, pembunuhan atau menyakiti orang lain. Kunci-kunci hukum sudah ada dalam kandungan nurani, kalbu dan akal sehat saya. Ada KUHP atau tidak, ada Undang-Undang atau tidak, saya insya allah bisa menjadi manusia yang tidak akan melanggar hakikat hidup manusia yang sejak diciptakan Allah memang wajib saling menyelamatkan, saling menyejahterakan dan saling mencintai.”

Akan tetapi di alam modern sekarang, kalimat Anda itu tidak akan dipercaya oleh siapa pun. Karena manusia modern tidak punya pengalaman menjadi manusia baik dengan hanya berbekal nurani dan akal sehatnya sendiri. Manusia modern tidak melanggar hukum karena takut kepada hukum, bahkan takut kepada polisi. Manusia modern sangat sukar percaya kepada orang baik, karena tidak punya pengalaman otentik untuk menjadi orang baik. Ada sejumlah orang di dunia modern yang benar-benar baik, tapi tak akan diakui sebagai orang baik, karena adanya orang baik pada wacana modern hanya terdapat di masa silam. Orang baik adalah mitos. Kebaikan hanya terdapat dalam mitologi. Sufi, ulama sejati, hanya beralamat dalam khayalan tentang masa silam. Kalau Sufi hidup sekarang, tak akan ada mata, kalbu, dan akal yang menemukan dan mengakuinya sebagai Sufi.

Meskipun Anda benar-benar orang baik, berhasil menolong Raja dan rakyat dari bentrok dan kesengsaraan, bahkan dibantu oleh Allah menerapkan keajaiban sehingga produk Anda tak ada duanya di dunia, jangan berharap dipercaya oleh siapa-siapa. Anda pasti justru dicurigai, disinisi, difitnah, dituduh setan, pengkhianat dan segala kata kutukan lain. Karena Anda memang hidup di tengah manusia modern yang merasa dirinya pahlawan-pahlawan rakyat namun yang otentik dan kongkret pada hidup dan kepribadiannya adalah khianat, sinisme, kecurigaan, buruk sangka, potensialitas setan, pemfitnah. Mereka tidak kenal yang selain fitnah, sangka buruk, kemunafikan, sikap sok pahlawan, yang datang ke rakyat menderita untuk memproklamasikan diri menjadi pembela rakyat, pejuang rakyat, tanpa para rakyat pernah memintanya atau mengamanatinya menjadi pahlawan. Rakyat juga sama sekali tidak punya parameter untuk membedakan mana pejuang mana pedagang, mana pahlawan mana pendusta, atau mana pecinta mana eksploitator (pemeras). Rakyat semacam itu, yang sabar dan tahan memelihara kebodohannya, saya jamin akan terus-menerus sengsara, tak kan pernah memperoleh solusi apa pun atas masalah-masalah mereka. Karena para pejuang yang mendatangi mereka memang tidak pernah punya niat untuk mencari solusi; justru mereka membutuhkan masalah, membutuhkan penderitaan rakyat, demi eksistensi mereka, demi pencarian nafkah mereka: menjual penderitaan orang banyak. Mereka memproklamasikan diri menjadi “Nabi” tanpa ‘nubuwah’. Mengklaim diri sebagai “Rasul” tanpa ‘risalah’. Makanan mereka adalah kepala kosong rakyat yang memelihara kebodohannya. “Masjid” semacam itulah yang dibakar oleh Rasulullah.

Sekarang hal itu tak mungkin terjadi, karena Negara memiliki hukum. Hukum yang memang sangat diperlukan, namun sangat sempit, linier, serta mengandung kebodohan dan bumerang berlimpah-limpah. Tapi silakan Anda percaya atau tidak: “Masjid” itu nanti akan “dibakar.” []

_______
Kolom Harian Surya, edisi 10/11/2007

Puasa Dan Hak

Kawah Api Made In: Yamawidura

bismillah

Makna secara umum atau secara mendasar atau kita sebut saja makna universal, artinya belum makna syar’inya dan belum makna keagamaannya. Makna universal itu adalah bahwa anda atau kita bersedia tidak menikmati apa yang sebenarnya berhak anda nikmati. Anda boleh makan, anda siap tidak makan.

Anda berhak untuk minum, tetapi anda rela untuk tidak minum. Anda punya hak asasi untuk menjadi sesuatu dengan jabatan tertentu, tetapi anda punya pertimbangan yang bermacam-macam, mudharat manfaatnya, maka anda ikhlas untuk tidak mengambil jabatan itu. Anda berhak untuk marah, karena anda berada dalam kebenaran, misalnya anda disakiti, dianiaya misalnya, tetapi anda ridho untuk tidak marah, anda memaafkan.

Semua itu adalah hakikat puasa. Jadi anda ngalah. Anda tidak melakukan sesuatu yang sesungguhnya tidak dosa kalau anda lakukan. Anda siap, ikhlas, dan tidak ada masalah untuk tidak mengerjakan, menikmati, mengambil, menumpuk, atau apapun yang sesungguhnya hukum apapun, nilai dan moralitas apapun memperkenankan anda untuk menikmati itu semua. Jadi, puasa itu mengandung kemuliaan yang luar biasa karena anda bersedia untuk tidak menikmati hak-hak anda pada momen tertentu, konteks tertentu, dan situasi tertentu. itulah makna universal puasa.

Puasa, Menuju Makan Sejati

Puasa, Menuju Makan Sejati

Kolom: Emha Ainun Nadjib

cn

Puasa itu jalan sunyi

Tersedia makanan tapi tak dimakan

Tersedia kursi tapi tak diduduki

Tersedia tanah tapi tak dipagari

Puasa itu jalan sunyi

Menggambar tapi tak terlihat

Bernyanyi tapi tak terdengar

Menangis tapi tak diperhatikan

Puasa itu jalan sunyi

Menjadi tanpa eksistensi

Pergi menuju kembali

Hadir tapi tak dikenali

ILMU Rasulullah Muhammad, “hanya makan ketika lapar dan berhenti makan sebelum kenyang”, telah menjadi pengetahuan hampir setiap pemeluk Agama Islam, tetapi mungkin belum menjadi ilmu. Puasa demi puasa, ramadhan demi ramadhan beserta fatwa demi fatwa yang senantiasa menyertainya dengan segala kerendahan hati harus saya katakan belum cukup mengantarkan kita dari permukaan pengetahuan menuju kedalaman ilmu. Ada jarak yang tak terkirakan antara pengetahuan dengan ilmu, meskipun khasanah kebahasaan kita dengan kalem menyebut ilmu pengetahuan di lembaran-lembaran kamusnya. Dengan berkunjung ke sebuah museum, kita bisa memperoleh pengetahuan tentang sebilah pedang, lengkap dengan semua data tentang panjang-lebarnya, asal-usul sejarahnya, serta logam suku cadangnya, termasuk berapa kepala yang dulu pernah dipenggalnya. Tetapi, ilmu baru terjadi tatkala pedang itu telah menyatu dengan tangan kita. Bukan saja kita sanggup menggenggamnya dan mendayagunakannya dengan seribu teknik silat; lebih dari itu ilmu ditandai oleh realitas menyeluruh, di mana pedang itu telah menjadi bagian dari diri kita, bagian dari badan kita, akal pikiran kita, emosi hati kita, termasuk budi dan kearifan jiwa kita. Pengetahuan barulah tataran terendah dari persyaratan mutu dan aktualitas eksistensi mahluk yang bernama manusia.

Tetapi, ilmu pun belumlah “langit” tertinggi dalam kosmos “ahsani taqwin” sebaik-baik mahluk –manusia. Sebab, ilmu pedang bisa merupakan awal mula dari tertikamnya dada seseorang. Oleh karena itu, di atas ilmu si penggenggam kebenaran ada langit lebih tinggi yang bernama hubb atau cinta. Cinta adalah rem, pembijak, pengarif, yang terkandang nikmat terkadang sakit, bagi kemungkinan pembunuhan atau permusuhan yang dipotensialkan oleh ilmu pedang. Ini berlaku pada skala mana pun, di kesempitan pergaulan sehari-hari hingga di keluasan peradaban.

Adapun jika ilmu, jika penghayatan akan kebenaran, bersenyawa, bekerja sama, berkoperasi, berposisi, dan berkelangsungan intermanagable, atau dengan kata lain “bersuami-istri dengan hubb” atau cinta maka tercapailah tataran “taqwa”. Tanpa itulah target puasa. Taqwa itulah cakrawala perjalanan kemusliman manusia. Taqwa lebih tinggi dari nilai kebenaran dan nilai cinta.

Apalagi dibandingkan tataran norma, hukum formal, adat, serta tabung-tabung formal kultural lainnya dalam komunitas atau kejamaahan umat manusia. Taqwa itu suatu atmosfer yang bukan main menyejukkan, menenteramkan, dan membahagiakan, yang terletak di garis kemungkinan “liga rabb”, yakni kemungkinan pertemuan hamba-hamba hina dina macam kita ini dengan Allah.

Sekarang bisalah kita membandingkan, apa beda kemungkinannya jika pedang berada di tangan orang berpengetahuan, dengan jika ia tergenggam di tangan orang berilmu saja, atau jika ia tergenggam di tangan orang yang bercinta saja dengan jika ia tergenggam di tangan orang yang bertaqwa. Kemudian gampanglah bagi kita untuk memproyeksikan: jika pedang itu adalah kekuatan fisik, adalah kekuasan politik, adalah modal dan peluang ekonomi, adalah pasal-pasal hukum, atau apa pun saja. Gampanglah kita perhitungkan: terjaditi kaman, siapa yang menikam dan yang tertikam, seberapa dahsyat akibat sejarah dari ketertikaman itu, ataukah mungkin berlangsung suatu ketaqwaan peradaban, di mana pedang tak pernah menikam, di mana ketajaman pedang ditaqwai untuk hanya menguak kesejahteraan dan kebahagiaan bersama.

Makan yang sejati rasanya tak enak untuk memuji-muji Muhammad. Ada situasi psikologis tertentu dalam pergaulan teologis dan kultural di lapangan integrasi nasional kita, yang menjadi sumber ketidakenakan tersebut.

Sepenuhnya saya memahami itu. Secara kultural, untuk situasi semacam itu, saya harus pelit pujian. Tetapi, dalam konteks ilmu kita tidak bisa menemukan argumentasi apa pun untuk melakukan hal yang sama. Tidak kebetulan bahwa arti harfiah kata “Muhammad” adalah juga yang terpuji.

Apa yang ingin saya lakukan dengan tulisan ini hanyalah mencicil landasan rasional agar kita berhak menyebut rasul terakhir itu dengan Muhammad. Kalau tak cukup pengetahuan dan ilmu, syukur cinta dan ketaqwaan, maka jika kita memanggilnya dengan mesra “Ya Muhammad kekasih”, rasanya kosong, tak ada muatannya. Muhammad menolehkan kepalanya dan melirikkan bola matanya ke arah kita, tetapi hati, nalar dan budinya tak ikut merasa terpanggil, karena panggilan kita memang tanpa nalar, hati dan budi. Beliau pasti kecewa.

“Makan hanya ketika lapar, dan berhenti makan sebelum kenyang” adalah formula tentang kesehatan hidup. Tak hanya menyangkut tubuh, tapi juga keseluruhan mental sejarah. Ia adalah contoh soal lebih dari sekadar teori keilmuan tentang keefektifan dan efisiensi. Selama ini pemahaman-pemahaman nilai budaya kita cenderung mentabukan perut. Orang yang hidupnya terlalu profesional dan hanya mencari uang, kita sebut “diperbudak oleh perut”.

Para koruptor kita gelari “hamba perut” yang mengorbankan kepentingan negara dan rakyat demi perutnya sendiri. Padahal ia bukanlah hamba perut. Sebab, kebutuhan perut amat sederhana dan terbatas. Ia sekadar penampung dan distributor sejumlah zat yang diperlukan untuk memelihara kesehatan tubuh. Perut tak pernah mempersoalkan, apakah kita memilih nasi pecel atau pizza, lembur kuring atau masakan Jepang. Yang menuntut berlebih pertama-tama adalah lidah. Perut tidak menolak untuk disantuni dengan jenis makanan cukup seharga seribu rupiah. Tetapi, lidah mendorong kita harus mengeluarkan sepuluh ribu, seratus ribu, atau terkadang sejuta rupiah.

Mahluk lidah termasuk yang menghuni batas antara jasmani dengan rohani. Satu kaki lidah berpijak di kosmos jasmani, kaki lainnya berpijak di semesta rohani. Dengan kaki yang pertama ia memanggul kompleks tentang rasa dan selera; tak cukup dengan standar 4 sehat 5 sempurna, ia membutuhkan variasi dan kemewahan. Semestinya cukup di warung pojok pasar, tapi bagian lidah yang ini memperkuda manusia untuk mencari berbagai jenis makanan, inovasi dan paradigma teknologi makanan, yang dicari ke seantero kota dan desa. Biayanya menjadi ratusan kali lipat. Dengan kaki lainnya lidah memikul penyakit yang berasal dari suatu dunia misterius, yang bernama mentalitas, nafsu, serta kecenderungan-kecenderungan aneh yang mensifati budaya manusia.

Makan, yang dalam konteks perut hanya berarti menjaga kesehatan, di kaki lidah itu diperluas menjadi bagian dari kompleks kultur, status sosial, gengsi, feodalisme, kepriyayian, serta penyakit-penyakit kejiwaan komunitas manusia lainnya. Kecenderungan ini membuat makan tidak lagi sejati dengan konteks perut dan kesehatan tubuh, melainkan dipalsukan, dimanipulir atau diartifisialkan menjadi urusan-urusan kultur danperadaban, yang biayanya menjadi amat, sangat mahal.

Budaya artifisialisasi makan ini dieksploitasi dan kemudian dipacu oleh etos industrialisasi segala bidang kehidupan, serta disahkan oleh kepercayaan budaya, bahwa harus senantiasa ada proses kreatif: orang menyelenggarakan modifikasi budaya makan, pembaruan teknologi konsumsi, jenis makanannya, panggung tempat makannya, nuansanya, lagu-lagu pengiringnya, pewarnaan meja kursi dindingnya hingga karaokenya.

Artifisialisasi budaya makan itu akhirnya juga menciptakan berbagai ketergantunan manusia, sehingga agar selamat sejahtera dalam keterlanjuran ketergantungan itu, manusia bernegosiasi di bursa efek, menyunat uang proyek, memborong gunung-gunung dan hutan-hutan, bahkan berperang dan membunuh satu sama lain. Padahal perut hanya membutuhkan “makan ketika lapar dan berhenti makan sebelum kenyang”. Maka yang bernama “makan sejati” ialah makan yang sungguh-sungguh untuk perut. Adapun yang pada umumnya kita lakukan selama ini adalah “memberi makan kepada nafsu”. Perut amat sangat terbatas dan Allah mengajarinya untuk tahu membatasi diri.

Sementara nafsu adalah api yang tak terhingga skala perbesaran atau pemuaiannya. Jika filosofi makan dirobek dan dibocorkan menuju banjir bandang nafsu tak terbatas, jika ia diartifisialkan dan dipalsukan dan tampaknya itulah salah satu saham utama beribu konflik dan ketidakadilan dalam sejarah umat manusia maka sesungguhnya itulah contoh paling konkret dari terbunuhnya efisiensi dan keefektifan.

Rekayasa budaya makan pada masyarakat kita, dari naluri sehari-hari hingga aplikasinya di pasal-pasal rancangan pembangunan jangka pendek dan jangka panjang, mengandung inefisiensi atau keborosan dan keserakahan, yang terbukti mengancam alam dan kehidupan manusia sendiri; di samping sangat tidak efektif mencapai hakikat tujuan makan itu sendiri.

Kebutuhan Sejati

Aktivitas puasa selalu diartikan – dan memang benar demikian – sebagai peperangan melawan nafsu. Cuma barangkali karena pengetahuan dan ilmu kita tentang musuh yang harus diperangi itu tidak bertambah, maka strategi dan taktik perang kita pun kurang berkembang. Kalau kita mendengar tentang nafsu makan, asosiasi kita menunjuk ke makan, bukan ke nafsunya. Maka ketika istri kita ke pasar, yang dibeli terutama adalah pesanan-pesanan nafsu, bukan kapasitas kebutuhan makan yang diperlukan. Setiap pelaku puasa punya pengalaman untuk cenderung mendambakan dan menumpuk berbagai jenis makanan dan minuman sepanjang hari, kemudian ketika saat berbuka tiba, ia baru tahu, bahwa perut sama sekali tidak membutuhkan sebanyak dan semewah itu.

Pelajaran yang diperoleh dari peristiwa semacam itu seharusnya adalah kesanggupan memilahkan antara dorongan nafsu dengan kebutuhan makan. Kegiatan puasa jadinya bukanlah pertempuran melawan “tidak boleh makan” atau “tidak adanya makanan”, melainkan melawan nafsu itu sendiri yang menuntut pengadaan lebih dari sekadar makanan.

Puasa adalah penguraian “nafsu” dari “makan”. Untuk tidak makan dari subuh hingga maghrib, putra kita yang baru duduk di kelas III Sekolah Dasar saja pun sudah sanggup. Untuk “tidak makan” jauh lebih gampang dan ringan dibanding untuk “tiak bernafsu makan”, terutama bagi para penghayat “makan yang sejati”.

Seorang Sufi yang taraf pergaulannya dengan makan tinggal hanya berkonteks kesehatan tubuh, dalam hidupnya ia tak pernah lagi ingat makan, kecuali ketika perutnya lapar. Ia bukan merekayasa untuk hanya makan ketika lapar, tapi memang betul-betul sudah tak ingat makan sampai perutnya mengingatkan, bahwa ia lapar. Untuk ingat lapar, cukup perut yang melakukannya, tapi untuk berhenti makan sebelum kenyang, manusia memerlukan dimensi-dimensi rohani tinggi kemanusiaannya untuk mengingatnya. Ia memerlukan nalar ilmu kesehatan tentang makan yang sehat, yakni tentang kurang dan tak lebih. Ia juga memerlukan ilmu dan kearifan yang lebih tinggi untuk melatih ketepatan kapasitas makan, agar ia memperoleh ketepatan pula dalam aktivitas “makan” yang lain di bidang-bidang kehidupan yang lebih luas.

Dalam pelajaran keaktoran teater, ada metoda “biasakan makan minum yang pas, agar dalam bermain drama engkau tidak overacting dan juga tidak underacting.

Padahal ilmu “makan sejati” atau “makan pas”-nya Rasulullah Muhammad juga berlaku untuk segala makan dalam kehidupan. Kita masuk ke toko serba ada dengan segala gemerlap yang tidak memanggil-manggil kebutuhan kita, melainkan mengundang nafsu kita.

Saya mohon maaf, bukan saya bermaksud mematikan nafkah para pedagang, tetapi bermilyar-milyar rupiah dikeluarkan orang untuk membeli pelayanan atas nafsu, bukan pelayanan atas kebutuhan. Program-program pembangunan kita memacu tahyul; mengetalasekan beribu-ribu jenis konsumsi yang tak sejati, yang sebenarnya belum tentu dibutuhkan oleh konsumen

Iklan-iklan industri adalah kendaraan budaya yang mengangkut jutaan manusia dari terminal kebutuhan ke terminal nafsu, dari kesejatian dan kepalsuan. Mereka dicetak untuk merasa rendah atau bahkan merasa tak ada, apabila tidak memiliki celana model ini dan kosmetika model itu. Merk-merk dagang adalah strata tahyul dan klenik. Para pasien di rumah sakit budaya tinggi, budaya gengsi, budaya kelas priyayi, menyerbu warung-warung status modernitas tidak untuk membeli barang, melainkan membeli anggapan-anggapan tentang barang. Salah satu wajah dunia industri modern adalah tahyul konsumtifisme, yang menjadi sumber dari berbagai konflik serius di bidang persaingan ekonomi, pergulatan kekuasaan politik hingga penyelewengan hukum.

Ini adalah kata-kata “purba”, yang terasa lucu dan naif untuk diperdengarkan. Tapi, tak bisa kita menghapusnya, karena setiap orang – setidaknya beberapa hari menjelang ajalnya –akan mendengar kata-kata semacam itu dari lubuk hati dan kesadarannya sendiri.

Puasa mengajarkan dan melatih pelaku-pelakunya untuk makan, untuk memiliki sejumlah uang dan kekayaan, untuk bersedia menggenggam kekuasaan, untuk menjadi ini-itu atau melakukan apa pun saja hanya ketika benar-benar dalam keadaan “lapar sejati”, bukan dalam keadaan “merasa lapas karena nafsu”. Jika orang menjalankan puasa dengan pengetahuan, ilmu, cinta, dan ketaqwaan, ia akan terlatih untuk bertahan pada “makan yang sejati”. Yakni, terlatih untuk mengambil jarak dari nafsu. Terlatih untuk tidak melakukan penumpukan kuasa dan milik, tidak melakukan monopoli, ketidakadilan, serta penindasan, karena telah diketahui dan dialaminya, bahwa itu semua adalah “makanan palsu”.

Tetapi, alangkah sedihnya menyaksikan, betapa dunia ini diisi oleh banyak manusia yang tak henti-hentinya makan, padahal ia tak lapar, serta oleh banyak manusia yang tak habis-habisnya makan, padahal ia sudah amat kekenyangan. Untunglah, bahwa bagi para pelaku puasa sejati, kesabaran untuk menyaksikan keburaman hidup semacam itu bisa justru meningkatkan perolehan kemuliaan dan kesejatiannya. []

_____

arsip/tanpa tahun

Makna Spiritual Dan Sosial Ibadah Puasa

Makna Spiritual Dan Sosial Ibadah Puasa

Kolom: Emha Ainun Nadjib

Emha Ainun Nadjib/foto: Nugroho

Emha Ainun Nadjib/foto: Nugroho

Tulisan ini bisa dimulai dari perspektif Rukun Islam. Dari syahadah hingga menunaikan haji di rumah suci Allah. Kita mencoba menjelaskan satu per satu maqam Rukun Islam tersebut. Dan, pada akhirnya, kita akan melihat maqam ibadah puasa, yang menjadi topik bahasan tulisan ini. Apakah maqam-maqam itu saling terkait, atau tidak?

‘Alamat’ dan ‘Jurusan’

Syahadah. Salah satu Rukun Islam berarti ketetapan dan penetapan titik pijak dan sekaligus arah tujuan gerak kehidupan manusia Muslim. Semacam ‘alamat’ dan ‘jurusan’. Pertama barangkali pada spektrum kosmologis kemudian teologis, baru kemudian kedua kultural.

Pandangan tentang ‘sangkan paran’, semacam alamat historis-kosmologis, menurut manusia untuk (melalui akal pikiran maupun melalui informasi wahyu, mawaddah wa rahmah, juga huda, bayyinat, wa furqan) menentukan alamat teologis (atau a-teologis)nya. Berdasarkan itu maka ia berangkat merumuskan alamat sosialnya, alamat kulturalnya, juga mungkin alamat politiknya, bahkan bukan tidak mungkin juga alamat geografisnya. Dengan itu, beda pandang manusia mengenai dunia, akhirat, dan tentang dunia akhirat menjadi terumuskan.

Menduniakan Akhirat, Mengakhiratkan Dunia, dan Mendunia-akhiratkan Kehidupan

Pada budaya dan perilaku manusia beserta sistem nilai yang disusun dalam kolektivitas mereka, ada yang memandang dunia ini sebagai tujuan. Seluruh aktivitas pribadi, gerakan sosial, pengorganisasian kekuasaan dan kesejahteraan di antara mereka, dilaksanakan dengan mengandaikan bahwa dunia ini adalah wadah satu-satunya dari segala awal dan segala akhir.

Wadahnya hanya dunia. Substansinya hanya dunia. Metodenya hanya dunia. Dan, targetnya juga hanya dunia. Orang lahir, orang bersekolah, orang bekerja, orang berkuasa, orang berkarier, dalam ‘durasi’ dunia.

Segala sesuatunya akan berbeda dengan pandangan lain yang meletakkan dunia sebagai titik tolak dan titik pijak untuk melangkah ke akhirat. Sejarah di dunia dikerjakan sebagai jalan (syari’, thariq, shirath), dan produknya adalah akhirat. Setiap kegiatan dan fungsi manusia dalam sejarah, selama dunia berlangsung, berlaku sebagai metoda. Berkedudukan tinggi, berjaya, unggul, atau menang di antara manusia, tidak dipahami sebagai neraka. Sebab surga dan neraka adalah produk dari penyikapan (teologis, moral, kultural) manusia atas semua keadaan tersebut.

Dalam hal ini belum akan kita perdebatan tentang apakah dunia dan akhirat itu diwadahi oleh dua satuan waktu yang berbeda, atau terletak pada rentang waktu yang sama, yang dibatasi oleh momentum yawm al-qiyamah, ataukah dunia dan akhirat itu sesungguhnya berlangsung sekaligus.

Ikrar teologis (yang beraktualisasi kultural) yang dilaksanakan melalui syahadatain, ibadah lain serta ‘syariat’ hidup secara menyeluruh adalah suatu pengambilan sikap, suatu pilihan terhadap pandangna atas dunia dan akhirat. Dengan pijakan sikap ini manusia menggerakkan aktivitas sosialnya, melaksanakan upaya-upaya hidupnya, serta menja-dikannya sebagai pedoman di dalam memandang, menghayati dan memperlakukan apapun saja dalam hidupnya.

Tidak termasuk dalam katagori ini pola sikap manusia yang dalam bersyahadat seakan-akan mengambil keputusan teologis yang memetodekan dunia untuk target akhirat, namun dalam praktiknya ia lebih cenderung meletakkan dunia sebagai target dan tujuan.

Kerancuan sikap semacam ini bisa dilatarbelakangi oleh semacam kebutaan (spiritual), oleh inkonsistensi (mental), oleh kemunafikan (moral), atau oleh tiada atau tidak tegaknya pengetahuan (intelektual). Yang terjadi padanya adalah kecenderungan menduniakan akhirat. Sementara pada manusia yang dalam konteks tersebut tercerahkan spiritualitasnya, yang konsisten sikap mentalnya, yang teguh moralnya, dan yang tegak pengetahuannya- kecenderungannya adalah mengakhiratkan dunia, atau dari sisi lain ia bermakna menduniaakhiratkan kehidupan.

Evolusi Salat dan Idul Fitri-Idul Fitri Kecil

Salat. Ibadah Salat merupakan suatu metode ‘rutin’ kultural untuk proses pengakhiratan. Momentum-momentum salat lima waktu memungkinkan manusia pelakunya untuk secara berkala melakukan pengambilan ‘jarak dari dunia’.

Itu bisa berarti suatu disiplin intelektual untuk menjernihkan kembali persepsi-persepsinya, untuk memproporsionalkan dan mensejatikan kembali pandangan-pandangannya terhadap dunia dan isinya, sekaligus itu bermakna ia menemukan kembali kefitrian-diri-kemanusiaan. Salat dengan demikian adalah idul fitri-idul fitri kecil yang bersifat rutin. Sekurang-kurangnya salat mengandung potensi untuk membatalkan atau mengurangi keterjeratan oleh dunia. Ini sama sekali bukan pandangan antidunia. Yang saya maksud, sebagai substansi, target, titik berat atau tujuan kehidupan.

Ibadah salat dengan demikian adalah suatu transisi sistem yang terus-menerus mengingatkan dan mengkodisikan pelakunya yang memelihara sikap mengakhiratkan dunia atau menduniaakhiratkan kehidupan. Ibadah salat menawarkan irama, yaitu proporsi kedunia-akhiratan yang dialektis berlangsung dalam kesadaran, naluri dan perilaku manusia.

Kalau kita idiomatikkan bahwa salat itu bermakna pencahayaan (‘air hujan’, salah satu jenis air yang disebut oleh al-Qur’an), maka jenis ibadah berkala ini berfungsi mencahayai dan mencahayakan kehidupan pelakunya. Mencahayai dalam arti menaburkan alat penjernihan diri dan persepsi hidup. Mencahayakan dalam arti memberi kemungkinan kepada pelakunya untuk bergerak dari konsentrasi kuantitas (benda, materi) menuju dinamika kreativitas (energi) sampai akhirnya menuju atau menjadi kualitas cahaya (Allahu nur al-samawat wa al-ardl).

Ibadah salat bersifat kumulatif dan evolusioner, sebagimana zakat yang berlambangkan susu (jenis air lain yang disebut oleh al-Qur’an). Kambing tidak meminum susunya sendiri, melainkan mendistribusi-kannya kepada anak-anak dan makhluk lain. Etos zakat adalah membersihkan harta perolehan manusia. Membersihkan artinya memproporsikan letak hak dan wajib harta. Manusia tidak memberikan zakat, melainkan membayarkan atau menyampaikan hak orang atau makhluk lain atasnya.

Revolusi Puasa, Melampiaskan dan Mengendalikan

Puasa. Berbeda dengan salat dan zakat, ibadah puasa bersifat lebih ‘revolusioner’ radikal dan frontal. Waktunya pun dilakukan pada masa yang ditentukan, seperti disebutkan al-Qur’an. Dan, waktu puasa wajib sangat terbatas. Hanya pada bulan Ramadhan.

Orang yang berpuasa diperintahkan untuk berhadapan langsung atau meng-engkau-kan wakil-wakil paling wadag dari dunia dan diinstruksikan untuk menolak dan meninggalkannya pada jangka waktu tertentu.

Pada orang salat, dunia dibelakanginya. Pada orang berzakat, dunia di sisinya, namun sebagian ia pilah untuk dibuang. Sementara pada orang berpuasa, dunia ada di hadapannya namun tak boleh dikenyamnya.

Orang berpuasa disuruh langsung berpakaian ketiadaan: tidak makan, tidak minum, dan lain sebagainya. Orang berpuasa diharuskan bersikap ‘tidak’ kepada isi pokok dunia yang berposisi ‘ya’ dalam substansi manusia hidup. Orang berpuasa tidak menggerakkan tangan dan mulut untuk mengambil dan memakan sesuatu yang disenangi; dan itu adalah perang frontal terhadap sesuatu yang sehari-hari meru-pakan tujuan dan kebutuhan.

Puasa adalah pekerjaan menahan di tengah kebiasaan menum-pahkan, atau mengendalikan di tengah tradisi melampiaskan. Pada skala yang besar nanti kita bertemu dengan tesis ini; ekonomi-industri-konsumsi itu mengajak manusia untuk melampiaskan, sementara agama mengajak manusia untuk menahan dan mengendalikan. Keduanya merupakan musuh besar, dan akan berperang frontal jika masing-maisng menjadi lembaga sejarah yang sama kuat.

Sementara ibadah haji adalah puncak ‘pesta pora’ dan demonstrasi dari suatu sikap, pada saat dunia disepelekan dan ditinggalkan. Dunia disadari sebagai sekadar seolah-olah megah.

Ibadah thawaf adalah penemuan perjalanan sejati sesudah seribu jenis perjalanan personal dan personal yang tidak menjanjikan kesejatian dan keabadian. Nanti kita ketahui gerak melingkar thawaf adalah aktualisasi dasar teori inna lillahi wa inna ilayhi raji’un. Suatu perjalanan nonlinier, perjalanan melingkar perjalanan siklikal, perjalanan yang ‘menuju’ dan ‘kembali’nya searah.

Ihram adalah ‘pelecehan’ habis-habisan atas segala pakaian dan hiasan keduniaan yang palsu status sosial, gengsi budaya, pangkat, kepemilikan, kedudukan, kekayaan, atau apapun saja yang sehari-hari diburu oleh manusia. Sehabis berihram mestinya sang pelaku mengerti bahwa nanti kalau ia pulang dan hadir kembali ke kemegahan-kemegahan dunia–tak lagi untuk disembahnya atau dinomorsatukannya. Karena ihramlah puncak mutu dan kekayaan.

Tauhid Vertikal dan Tauhid Horisontal

Adapun apa, ke mana, dan bagaimanakah sesungguhnya yang dijalani oleh para pelaku Rukun Islam, terutama yang ber’revolusi’ dengan puasa?

Pilar utamanya adalah tauhid vertikal (tawhid ilahiyyah) dan tauhid horisontal (tawhid basyariyyah). Tauhid itu proses penyatuan. Penyatuan (ilahiyyah) ke atau dengan Allah, serta penyatuan ke atau dengan sesama manusia atau makhluk, memiliki rumus dan formulanya sendiri-sendiri.

Perlawanan terhadap dunia, penaklukan atas diri dan kehidupan untuk diduniaakhiratkan yang ditawarkan oleh ibadah puasa–sekaligus berarti proses deindividualisasi, bahkan deeksistensialisasi. Tauhid adalah perjalanan deeksistensialisasi, pembebasan dari tidak pentingnya identitas dan rumbai-rumbai sosial keduniaan di hadapan Allah. Segala kedudukan, fungsi dan peran di dunia dipersembahkan atau dilebur ke dalam eksistensi sejati Allah dan kasih sayang-Nya. Tauhid sebagai perjalanan deindividualisasi berarti menyadari dan mengupayakan proses untuk larut menjadi satu atau lenyap ke dalam wujud-qidam-baqa’ Allah. Manusia hanya diadakan, diselenggarakan seolah-olah ada, ada-nya palsu–oleh Yang Sejati Ada.

Yang juga ditawarkan oleh puasa adalah proses dematerialisasi, atau peruhanian atau dalam konteks tertentu pelembutan dan peragian. Dematerialisasi bisa dipahami melalui, umpamanya, konteks peristiwa Isra’ Mi’raj. Rasulullah mengalami proses transformasi dari materi menjadi energi menjadi cahaya. Maka, dematerialisasi vertikal bisa berarti mempersepsikan, menyikapi dan mengolah materi (badan, pemilikan, dunia, perilaku, peristiwa) untuk dienergikan menuju pencapaian cahaya. Fungsi sosial dikerjakan, managemen dijalankan, musik diciptakan, karier ditempuh, ilmu digali dan buku dicetak, uang dicari dan harta dihamparkan–tidak dengan orientasi ke kebuntuan dunia sebagai materi yang fana, melainkan digerakkan ke makna ruhani, pengabdian dan taqarrub kepada Allah, sampai akhirnya masuk dan bergabung ke dalam ‘kosmos’ dan sifat-Nya.

Proses dematerialisasi, proses ruhanisasi atau proses transformasi menuju (bergabung, menjadi) Allah, meminta hal-hal tertentu ditanggalkan dan ditinggalkan. Dalam bahasa sehari-hari orang bilang: jangan mati-matian mencari hal-hal yang tidak bisa dibawa mati.

Menanggalkan dan meninggalkan itu mungkin seperti perjalanan transformasi padi menjadi beras, dan menjadi nasi. Padi menjadi beras dengan menanggalkan kulit. Beras juga padi, tapi beras bukan lagi padi, sebagaimana padi belum beras. Nasi itu substansinya padi atau beras, tapi sudah melalui proses suatu pencapaian transformatif. Para pemakan nasi tidak antipadi, tapi juga tidak makan padi dan menanggalkan kulit padi. Pemakan nasi sangat membutuhkan beras, tapi tidak makan beras dan tidak membiarkan beras tetap jadi gumpalan keras. Pemakan nasi memproses bahan dan substansi yang sama menjadi atau menuju sesuatu yang baru.

Jadi, jika pemburu atau pengabdi Allah tidak antidunia, tidak antimateri, tidak antibenda, tapi juga tidak menyembah benda, melainkan mentransformasikan (mengamalsalehkannya), meruhanikannya (menyaringnya menjadi bermakna akhirat). Bahkan manusia akan menanggalkannya dan meninggalkan dirinya sendiri (gumpalan individu, wajah, badan, performance, eksistensi dunia), karena ‘dirinya’ di akhirat, dirinya yang bergabung ke Allah adalah sosok amal salehnya.

Pada ‘citra’ waktu, dematerialisasi, peruhanian, deindividualisasi, dan deeksistensialisasi berarti pengabdian. Pembebasan dari kesementaraan. Yang ditanggalkan dan ditinggalkan adalah kesementaraan. Segumpal tanah bersifat sementara, tapi ia difungsikan dalam sistem manfaat dan rahmat, maka fungsinya itu mengabdi. Sebagaimana gumpalan badan kita serta segala materi eksistensi kita bersifat sementara, yang menjadi abadi adalah produk ruhani pemfungsian atas semua gumpalan itu.

Melampiaskan dan Mengendalikan

Juga dalam proses tauhid horisontal, penyatuan berarti sosialisasi pribadi. Kalau masih pribadi yang individualistik (ananiyyah), ia gumpalan. Begitu integral-sosial (tawhid basyariyyah), ia mencair, melembut. Yang ananiyyah itu temporer dan berakhir, yang tauhid basyariyah itu baqa’ dan tak berakhir.

Identitas sosial, harta benda, individu, segala jenis pemilikan dunia, dienergikan, diputar, disirkulasikan, didistribusikan, dibersamakan atau diabadikan ke dalam keberbagian sosial. Itulah peruhanian horisontal.

Karena itu, proses-proses menuju keadilan sosial, kemerataan ekonomi, distribusi kesejahteraan, kebersamaan kewenangan dan lain sebagainya–sesungguhnya merupakan aktualisasi tauhid secara horisontal.

Kita tinggal memperhatikan setiap sisi, segmen dan lapisan dari proses sosial umat manusia (pergaulan, kebudayaan, negara, sistem, organisasi) melalui terma-terma materialisasi versus peruhanian, satu versus kemenyatuan, pensementaraan versus pengabdian, penggumpalan versus pelembutan, sampai akhirnya nanti pelampiasan versus pengendalian. Budaya ekonomi-industri-konsumsi kita mengajak manusia untuk melampiaskan. Sementara agama menganjurkan manusia untuk mengendalikan. Kalau kedua arus itu sama-sama menemukan lembaga dan kekuatan sejarahnya yang berimbang, konflik peradaban akan serius.

Ibadah puasa merupakan jalan ‘tol’ bagi perjuangan manusia untuk mencapai kemenangan di tengah tegangan-tegangan konflik tersebut. Juga dalam pergulatan antara iradah al-nas dalam arti individualisme individu-kecil dengan iradah Allah Individu Besar Total.

Kita bisa menolak ke terma sab’a samawat, tujuh langit– Roh-Benda-Tumbuhan-Hewan-Manusia- Ruhanisasi-Ruh– bisa kita temukan siklus-siklus kecil dan besar proses peruhanian yang diselenggarakan oleh manusia.

Atau terma Empat ‘Agama’–‘agama’intuitif-instinktif, ‘agama’ intelektual, ‘agama’ wahyu, serta ‘agama atas agama’--kita bisa menemukan bahwa ketika penerapan wahyu –Agama terjebak menjadi berfungsi gumpalan-gumpalan, maka ‘agama atas agama’ merupakan fenomena peruhanian, kristalisasi substansi. Semua manusia bekerjasama menempuh nilai-nilai inti peruhanian yang mengatasi gumpalan-gumpalan aliran, sekte, kelompok, mazhab atau organisasi agama.

Terma lain yang mungkin bisa kita sentuh adalah cakrawala puasa la’allakum tattaqun. Produk maksimal puasa bagi pelakunya adalah derajat dan kualitas takwa. Dalam terapan empiriknya, kita mencatat stratifikasi fiqh/hukum-akhlak-takwa. Kondisi peradaban umat manusia masih tidak gampang untuk sekadar mencapai tataan manusia fiqh/hukum atau budaya fiqh/hukum. Apalagi naik lebih lagi ke level akhlak dan takwa. []

__________

arsip/1996

In Memoriam Rendra

In Memoriam Rendra:
Tanahku, Hutanku, Kuburanku
Oleh: Muhammad Ainun Nadjib
WS Rendra

WS Rendra

RENCANANYA, sesudah diskusi ulang tahun ke-52 Lembaga Administrasi Nasional, 4 Agustus pagi itu, saya janji langsung ke Rumah Sakit Mitra Keluarga untuk turut mengantarkan Rendra pulang ke rumah Clara Shinta, putrinya, di Pesona Khayangan, Depok. Namun, tiba-tiba Mbah Surip dipanggil Tuhan sehingga seusai diskusi, saya dengan beberapa teman Kenduri Cinta langsung menuju rumah Mamiek Slamet [Prakoso] di Kampung Makassar, tempat pertama jenazah beliau disemayamkan.
Memasuki kampung padat gang sempit penuh orang dan wartawan, tiba juga kami di depan rumah Mamiek. Pintu ditutup rapat. Manohara barusan masuk. Kami tidak punya ”kompetensi” untuk berjuang agar bisa dibukakan pintu sebab kami tidak tahu posisi kami dalam dunia Mbah Surip: apakah kami termasuk di lingkaran primer sahabatnya, atau lingkungan sekunder, ataukah fans belaka sebagai ratusan khalayak yang memadati tempat itu.

Bersama Dr Nursamad Kamba, aktivis Thariqat Naqshabandy Mesir, kami mengaji dan berdoa di sebuah pojok, kemudian berniat langsung saja ke Cipayung, tempat Mbah Surip akan disemayamkan. Jalan kami terdesak-desak oleh arus massa yang berlomba mengerumuni dan menciumi tangan Manohara, tetapi syukur bisa lolos juga dan langsung menuju kompleks Bengkel Teater Rendra di Cipayung.

Sesampai di sana kami terbentur problem ”kompetensi etis” lagi sehingga hanya berkumpul di sebuah rumah tetangga Rendra untuk berdoa dan shalat gaib bersama. Kami menyepakati agar Noe ”Letto” dan satu dua teman yang masuk ke tempat jenazah Mbah Surip disemayamkan.

Pukul 20.00, kami cabut menuju Pesona Khayangan AV-5 untuk menemani Rendra yang terbaring sakit. Problem jantung dan ginjal beliau semakin mereda sesudah berpindah tiga rumah sakit, tetapi lalu tiba-tiba terserang demam berdarah sehingga rencana untuk keluar dari RS Mitra tertunda menunggu trombositnya naik. Syukur beliau akhirnya diizinkan pulang dan mulai ditangani oleh sebuah klinik herbal di Jakarta Barat.

”Menonton” Mbah Surip

postcard

postcard

Rendra telentang, rambutnya dipotong pendek sejak seminggu sebelumnya, tubuhnya masih kuyu, tetapi wajahnya mulai bersinar.

”Hatinya lebih tenteram di sini, Mas?” saya menyapa sambil memegangi tangannya. Rendra tersenyum, menganggukkan kepala, dan memancarkan sorot mata optimisme. Rendra bukan orang yang pernah suka menyembunyikan isi hatinya sehingga kalau hatinya tidak benar-benar lebih tenteram, ia pasti menjawab dengan keras dan tegas, ”Ora!”

Kami berbisik-bisik mengobrol pendek-pendek, tentang kelegaannya ditangani dengan metode yang lebih natural, tetapi menyepakati kesiapan seluruh segi untuk sewaktu-waktu berpindah ke rumah sakit di Singapura, yang memang sudah kami runding sejak dua minggu sebelumnya.

Ken Zuraida, istri beliau, dan Meme, putri mereka, lalu lalang menyiapkan ini itu yang diperlukan. Auk alias Clara Sinta, putri Rendra dari istri pertamanya, Sunarti, tak pernah diperbolehkan papanya lepas beberapa meter saja pun darinya, siang dan malam. Juga Arifin, semacam asisten pribadi Rendra yang senantiasa siap ceplas-ceplos bergurau menyegarkan jiwa Rendra, tidak pernah bisa beranjak dari seputar Rendra. Jika beranjak akan terdengar suara berat memanggil-manggilnya, ”Fiiin! Fiiin!”

Namun, malam itu Rachell, putri Rendra dari Sitoresmi, sedang pamit ke Yogyakarta sehingga tak terdengar gurauan liberal yang segar antara bapak dan putrinya.

Suasana di pembaringan Rendra kemudian bahkan agak berubah sendu. Di seberang pandang Rendra, televisi sedang menayangkan siaran langsung prosesi pemakaman Mbah Surip.

Ribuan orang dan ratusan wartawan memenuhi ”rumah Rendra”. Rendra menatap televisi dengan ekspresi wajah yang tidak segera bisa saya raba. Apakah mereka tahu di mana gerangan tuan rumahnya Mbah Surip berada? Kenapa Rendra tak tampak turut takziah kepada tamunya? Apakah ada yang tahu bahwa si tuan rumah sedang terbaring sakit sejak dua bulan sebelum Mbah Surip meninggalkannya?

Anatomi nilai

Rendra - Emha

Rendra - Emha

Tatkala terbaring di rumah sakit, Rendra pernah berbisik, ”Kapan saya pulang, Nun?” Saya agak mengelak, ”Kalau pulang, ke mana, Mas?” Ia menjawab, ”Ke Cipayung. Itu tanahku, itu hutanku, itu kuburanku….”

Lalu, tatkala diperkenankan pulang, ia mengambil keputusan, akan pulang ke rumah putrinya, A’u. Saya memahaminya sebagai ungkapan kearifan dan kemuliaan hatinya untuk berbagi kegembiraan dan keadilan bagi siapa saja di dalam lingkup keluarganya. Ternyata kemuliaan hati Rendra itu dituntun Tuhan. Sesudah dua hari berbaring di rumah putrinya, ia rebah di ”tanahku, hutanku, kuburanku”.

Tiba-tiba, tatkala bersama Komunitas Padangbulan saya berbincang di bawah cahaya bulan purnama di Jombang, 6 Agustus pukul 22.05, di panggung saya memperoleh telepon bahwa Rendra telah dijemput oleh Malaikat Izroil karena lamaran cintanya diterima Allah SWT. Beberapa jam sebelumnya, tatkala maghrib, ia memanggil A’u dan Arifin, bertanya, ”Kalau aku mati, kamu ikut siapa?” Tentu saja mereka berdua menjawab, ”Papa tidak boleh omong seperti itu.”

Hati saya mungkin kotor karena spontan yang muncul di benak saya sesudah mendengar kepergian Rendra adalah ”apakah akan ada siaran langsung juga sebagaimana Mbah Surip?”

Saya mencoba memaafkan diri sendiri dengan meyakini bahwa pertanyaan itu muncul tidak dari konteks eksistensialisme dan kemasyhuran, melainkan ujian berpikir bagi diri saya sendiri, dan syukur bagi seluruh bangsa Indonesia, khususnya bagi dunia jurnalisme negeri ini. Apakah tidak sebaiknya kita mempertanyakan kembali parameter-parameter nilai kehidupan yang berlaku.

Bagaimana sebenarnya kita menggambar ”anatomi nilai” kebudayaan kita? Yang mana dan siapa ”kepala”, yang mana dan siapa ”tangan”, ”kaki”, ”otak”, ”nurani”, dan ”kelamin”?

Jangan dulu bertanya tentang kaliber karya dan kepribadian Rendra. Kita benahi dulu: yang primer itu akal ataukah nurani, ataukah kelamin? Yang utama bagi informasi dan komunikasi kebudayaan kita ini prestasi akal, pencapaian estetika dan nurani, atau euforia nafsu dangkal kelamin—baik yang diekspresikan dan diperjualbelikan secara eksplisit kelamin maupun yang implisit dan tak kentara bahwa sesungguhnya ”rating tertinggi” yang kita imani adalah ”packaging” kedangkalan, kekonyolan, kehinaan, dan kerendahan?

Wallahua’lam. Saya berdebar dari detik ke detik. Di tangan saya tergenggam lembar kertas yang bertuliskan puisi terakhir Rendra yang ia tulis pada 31 Juli 2009 di RS Mitra Keluarga….[]

____
(Sumber: Kompas, Sabtu, 8 Agustus 2009)

Rendra: Aku Bersaksi

Aku Bersaksi

Catatan: KangMunzir

WS Rendra

WS Rendra

AGAK berat aku menuturkan. Hari-hari begitu cepat bergeser. Peristiwa demi peristiwa.

Aku bersyukur, hari-hari terakhir bersama dengan WS Rendra. Aku bersaksi ya Allah, Rendra kekasih-Mu. Seretlah aku, kelak, menemanimu di surga.

Minggu 19 Juli. Aku ingin istirah sejenak. Dua hari lalu bom meledak di dua tempat berbeda; Hotel Ritz Carlton dan JW Marriot, Kuningan, Jakarta. Orang-orang lebih suka berdiam di rumah.

“Tolong, temani aku menjemput Mas Emha!” kata Sis sahabat saya bertelpon. “Oke, aku mandi dulu” jawabku menyanggupi.

Bertiga kami jalan. Aku tidak bertanya mau kemana. Ketika kemudian mobil memasuki pelataran rumah sakit di Kelapa Gading, hati dan akalku mulai bisa meraba. Benar saja, di ruangan yang nyaman dan lega, Mas Willy (panggilan WS Rendra) terbaring luyu dengan sorot mata penuh optimisme. Clara Sinta, anaknya dari Sunarti, istri pertama, sedang membantu mendudukkan dibantu Arifin, asisten pribadi Mas Willy. Ken Zuraida, istrinya dan Meriam Supraba anaknya, sibuk menyiapkan obat atau makanan yang dibutuhkan. Aku salami dan kuciumi tangannya.

jenazah rendra

Jenazah Rendra

Dari berbagai pembicaraan dengan keluarga dan kalangan terdekat, Mas Willy sewaktu-waktu bisa dipindah ke rumah sakit di Singapura atau pengobatan herbal, natural dan alami. Semuanya, semata-mata untuk kepulihan Mas Willy.

Emha Ainun Nadjib, sejak Mas Willy di pindah dari rumah sakit di Cinere ke RS Harapan Kita, selalu menemani bersama Sis, jika tak ada jadwal acara di berbagai daerah. Hari demi hari selalu memonitor perkembangan kesehatan Mas Willy. Pun proses pemindahan dari RS Harapan Kita ke RS Mitra Keluarga Kelapa Gading.

Minggu 26 Juli. Aku kangen. Aku telpon Sis, bahwa aku ingin menjenguk. Aku bawa adikku yang kebetulan sedang di Jakarta untuk menemani. Clara Sinta tetap menjaganya. Arifin, Sis dan Oji [putra Jaja Mihardja] menunggu giliran, saling bahu-membahu ikut menemani.

Kembali aku salami dan kucium dengan penuh. Mas Willy sudah bisa duduk di pembaringan. Sorot matanya tetap tajam, senyumnya mengembang. Aku bilang kepada Clara Sinta. “Luar biasa perkembangannya!” Clara Sinta berkaca-kaca dan tersenyum, “Alhamdulillah, terima kasih mas…!”

Selasa 4 Agustus. Acara diskusi di Lembaga Administrasi Nasional. Aku terlambat datang. Mbah Surip meninggal, AD kawanku berbisik. Aku tergagap. Selama empat tahun ini aku merasa dekat. Minimal sebulan sekali bertemu saling sapa dan saling ejek. “Mana kopinya, hahahaha….!” Seingatku, pernah beberapa kali aku membuatkan kopi. Sebulan terakhir, Mbah Surip begitu sibuk. Bahkan aku sempat menulis, kini tanganku susah menggapainya. Mbah Surip sudah menjadi milik masyarakat.

Usai acara; bersama Emha, AD dan AS menuju rumah Mamiek Prakoso di Kampung Makassar, Mbah Surip pertama kali disemayamkan dan dimandikan. Begitu banyak masyarakat dan wartawan yang ingin menyaksikan Mbah Surip. Di pojokan teras, Dr Nursomad Kamba dan istrinya Fatin Hamama, penyair perempuan, sedang khusuk berdoa. Terlihat beberapa jamaah Kenduri Cinta ikut berdesakkan ingin mengikuti prosesi pemandian.

“Mohon wartawan menuju ke Bengkel Teater, Mbah Surip akan dikuburkan disana,” seseorang berkata mewakili Mamiek, sebagai ‘shahibul mushibah.’ “Alamat lengkapnya dimana?” teriak beberapa wartawan. Masya Allah, wartawan tidak tahu alamatnya Bengkel Teater Rendra…?

Kami menyingkir. Massa begitu banyak. “Manohara, Manohara…!” Sudah tidak jelas lagi, takziyah atau sekedar fans yang ingin jumpa idolanya.

Bengkel Teater Rendra terletak di Cipayung, Pacoran Mas, Depok. Kami berempat menuju kesana. Mas Willy, yang dijadwalkan pulang dari rumah sakit memberi izin Mbah Surip dikebumikan di pekarangan kompleks Bengkel Teater. Di lokasi sudah berjubel mobil-mobil televisi. Suasana takziyah sangat tidak terasa. Kami memilih rumah penduduk 300 meter dari lokasi. Di sini, kami shalat dan berdoa.

Beberapa kawan berkumpul. Noe Letto masih dalam perjalanan. Rida, yang selama ini setia menjaga dan memijat Mas Willy juga sedang menuju lokasi. Karena lokasi agak susah dijangkau, aku pandu keduanya dengan berkali-kali telpon.

Wartawan-wartawan berlalu lalang. Mereka lupa bahwa pemilik Bengkel Teater sedang lemah terbaring sakit. Bagi industri, Mbah Surip meninggal adalah komoditi yang sangat menjual.

Kami, bersama Noe, Sis dan Rida, berdoa di depan jenazah Mbah Surip. Memohon agar dilapangkan jalannya menuju Allah, diiringi para malaikat menggendong sampai ke surga.

Pukul 20.00. Pesona Khayangan AV-5. Di rumah Clara Sinta Mas Willy kembali. Rambutnya sudah rapi. Senyumnya tetap mengembang. Bergantian kami menyalami. Kuciumi tangannya penuh cinta. Noe memijat kakinya. Emha bercerita banyak sambil berbisik. Clara Sinta, Ken Zuraida, Meriam Supraba, Teddy, anak pertama, Daniel dan Arifin setia menjaganya.

Dari pembaringan Mas Willy menyaksikan siaran langsung prosesi persamayaman Mbah Surip di rumahnya sendiri Bengkel Teater. Entah perasaan apa yang berkecamuk.

Rabu 5 Agustus. Ulang tahun Komisi Yudisial. Hari-hari melelahkan. Orang-orang terhormat berdatangan. Sejenak bercengkrama dengan Busyro Muqaddas dan Soimah, istrinya. Busyro bekas dosenku. Istrinya kawan lamaku. Beberapa personil KK saling bercanda. Sudjiwo Tedjo barusan mendalang. Tadi Emha memandu lalu lintas acara dan Novia Kolopaking bernyanyi.

Kamis 6 Agustus. Sore hari akan mengantar Sis ke stasiun Jatinegara ada agenda ke Jogja. Tiba-tiba dibatalkan karena Sis harus bertemu seseorang dahulu, diundur pagi-pagi berangkatnya.

Jam 22.00 bergeser sedikit. Selularku menyalak, “Rendra dipanggil Allah.” Aku tidak percaya. Semua yang kuhubungi selularnya sibuk. “Rendra meninggal, Mas Emha ada dimana?” kembali selularku berteriak. Aku meneteskan air mata. “Kawan-kawan ke Depok sekarang apa besok?”

Aku tidak bisa berpikir. Sis sudah meluncur ke Depok. Emha sedang pengajian Padhang Bulan di Jombang. Semula, esok paginya Emha ada meeting dengan berbagai pihak di Surabaya dan acara Bang Bang Wetan. Kedua acara di Surabaya akhirnya didelegasikan kepada anaknya, Noe dan kawannya dari Jogja, Toto Rahardjo.

Dari Surabaya pagi-pagi Emha meluncur ke Jakarta. Istrinya, Novia Kolopaking berangkat dari Jogja. Kemudian Emha memimpin doa dan mewakili keluarga mengatur prosesi upacara pemakaman.

Aku bersyukur, di separo bulan Sya’ban, Nisfu Sya’ban, kala bulan purnama, hari Jum’at [hijriyah] Wahyu Sulaiman Rendra dengan mengucap “Allah I Love You, Allah I Love You…!” menghembuskan nafas terakhir. Allahu Akbar. []

_____

Mohon maaf kepada keluarga, istri dan anak-anaknya, juga keluarga besar Bengkel Teater, jika kurang tepat dalam penyebutan nama dan yang lain.

Sabrang

Sabrang
Catatan:  KangMunzir

sabrang

sabrang kecil

SABRANG Mowo Damar Panuluh. Nama yang panjang. Bahkan untuk masyarakat Jawa, nama ini cukup aneh. Unik. Emha Ainun Nadjib, ayahnya, sangat mencintainya. Saat itu Sabrang sudah kelas 6 SD di Metro, Lampung Tengah, mengikuti ibunya Neneng Suryaningsih, yang sudah berpisah dengan Emha. Namun hubungan dan komunikasi Emha dengan keluarga Metro tetap terjaga dengan baik. Sabrang murid SD ini, kelak dikenal orang sebagai Noe Letto, vokalis grup band Letto.

Hampir tiap bulan Emha ditemani Uki Bayu Sedjati sahabatnya dari Jakarta, seorang wartawan, membeli berbagai macam buku untuk dipaketkan ke Metro. Untuk ukuran seusia anak SD, jangan Anda bayangkan Emha mengirim buku-buku pelajaran sekolah atau komik-komik Jepang. Emha memilihkan buku-buku karya Buya Hamka; Sufi Modern, Tafsir Al-Azhar dan buku-buku sastra ‘berat’ misalnya karya Mochtar Lubis.

Setumpuk buku-buku itu dalam waktu kurang dari sebulan, sudah habis dilahapnya. Emha sendiri kadang heran dan mengabarkan kepada Uki.

“Ini dibaca atau dibakar sih?”

Sabrang sendiri gelisah jika sudah tidak ada buku lagi untuk dibaca. Ia tidak bisa diam. Maka dicarilah buku-buku silat karya Bastian Tito, jangan heran jika buku ‘sekali baca habis’ ini menumpuk, hampir tiap edisi terbaru dicari.

Sabrang kecil ternyata punya pikiran cerdik. Buku-buku yang menumpuk sudah terbaca, ditata dengan rapi di rak-rak buku dan disewakan kepada teman sebayanya dengan tarif seratus rupiah. Sudah bisa diduga, kenyataannya seringkali teman-temannya tidak mau membayarnya. Ia sendiri tidak tega menagihnya.

Suatu hari Emha meminta saya untuk mencari guru ngaji. Ya, guru ngaji, saat itu istilah ‘ustadz’ belum sepopulair sekarang. Saya mendatangi Yayasan Tunas Melati, pimpinan Bapak Suroyo MA, mencari guru ngaji yang mau diajak ke Metro. Guru ngaji itu saya antar sampai ke Metro untuk jangka waktu tiga bulan. Mohon maaf, nama guru ngaji yang dari Kebumen itu, saya lupa namanya. [Moga-moga Allah selalu meberi rahmat dan keberkahan dalam hidupnya].

Sejak saat itu tiap malam Sabrang bersama beberapa kawannya ngaji di bawah bimbingan seorang guru ngaji dari Jogjakarta.

Dalam hal mendidik anak, barangkali Emha agak berbeda dengan kebanyakan orang tua. Emha lebih banyak berdialog, meskipun anaknya masih kecil. Ia mengenalkan “Tuhan” dengan memaparkan tentang alam. Tentang malam berganti siang, gunung-gunung, awan yang menjadi hujan, luruhnya dedaunan, atau embun di pagi hari.

Emha mendidik dengan unik. Tidak jamak untuk ukuran umum. Mungkin semacam latihan ‘lelaku.’ Pernahkah Anda jalan kaki untuk jarak 6 M (enam meter) ditempuh dalam 15 (lima belas) menit? Biasanya lomba jalan atau lari itu siapa yang paling cepat. Seratus meter ditempuh 10 detik. Cepat ‘kan? Tapi ini kebalikannya. Lambat sekali. Dan Emha menyuruh Sabrang untuk melakukan itu. Ini gila. Bahkan saudara-saudaranya di Metro terheran-heran, lomba apaan itu. Gilanya, Sabrang ya mau. Dan bisa menempuh jalan yang amat lambat untuk jarak 6 meter dalam waktu 15 menit. Dan berhasil. Emha sangat terharu dan merangkulnya.

Ternyata ini adalah uji kesabaran. Hasilnya adalah kelak. Sabrang bukan termasuk orang yang menggebu-gebu. Kadang tanpa ekspresi. Kesannya dingin. Sedih atau bahagia tidak tampak. Emha sendiri kadang bingung menafsirkan.

“Yo opo anakku iki, berpisah gak mau salaman….”

Ini terjadi di Bandara Soekarno Hatta ketika Sabrang pertama kali mau berangkat kuliah ke Kanada. Dengan ibu tirinya, Novia Kolopaking, yang Sabrang memanggilnya “Mbak Yah” justru berangkulan.

Emha sangat disiplin dalam setiap hal. Jika malam tiba, sebagian penghuni Patangpuluhan terlelap, ia mengunci pintu sendiri dan mematikan lampu-lampu yang tidak perlu. Pagi-pagi sekali sudah berbasah-basah mencuci mobil sendiri. Di Patangpuluhan banyak sekali orang-orang yang dengan senang hati akan membantu, tapi Emha tidak akan pernah memberi perintah.

Setiap liburan sekolah Sabrang ke Jogjakarta diantar oleh tantenya: Sari dan (calon) pamannya, Agus, yang memang sedang kuliah di Jogjakarta. Tidak jarang saya harus menemani Sabrang jalan-jalan keliling Jogjakarta. Saat itu Sabrang sudah SMP. Ia senang jail. Malam hari, tiba-tiba sengaja ngilang di antara gerbong-gerbong kereta api Stasiun Tugu. Dia ngumpet, melihat saya yang kebingungan mencari kesana kemari. Perasaan saya teraduk-aduk, anak orang hilang, anaknya Emha lagi. Asem betul Sabrang.

Berjam-jam baru muncul. Dengan senyum yang jelek itu memburu saya. Saya tuntun kencang-kencang menuju arah Lesehan Malioboro, disana Emha, Arief Affandi dan yang lain-lain sedang kumpul-kumpul di depan kantor Biro Jawa Pos Jogjakarta.

noe

sok akrab dengan noe

Di tempat lesehan inilah sering berkumpul tokoh-tokoh yang sebagian (kelak jadi) penting. Ashadi Siregar, Djadug Ferianto, Doddy Ambari, Arif Affandi, Yusuf  ‘Dalipin’ Arifin, Whani Darmawan, Butet Kertarajasa, Umar Kayam, Yahya Staquf, Najib Azca, Rizal Mallarangeng, Erros Djarot, Indra Tranggono, Simon Hate, Toto Rahardjo, dan lain-lain.

Tiba-tiba dari arah kamar mandi terdengar suara: “Kepada hati itu aku terlena/Dimana kau berada, aku terbawa/Kepada hati itu ku terus mencoba/Dimana kau berada, engkau milik-Nya……” Asli. Itu bukan suara Noe Letto. Tapi suara rada sumbang karena flu, Sabrang Mowo Damar Panuluh. []

_________

*) Tulisan ini pernah dipublish, dengan berbagai editan di sana sini sebagai pemanis. Semoga ada manfaatnya.

Noe Letto “Soundwave: Titik Nadir Kreatifitas”

Soundwafe: Titik Nadir Kreatifitas

Oleh: Sabrang Mowo Damar Panuluh

Noe Letto/RollingStone Indonesia

Noe Letto/RollingStone Indonesia

Beberapa waktu lalu, sebelum menulis artikel ini, saya sempat bertanya pada salah satu dari Rolling Stone, “Apa boleh kalau saya nulis kata ‘fuck’ di majalah ini?” Mulut saya tanpa sadar juga tersenyum lebar sambil mata menerawang membayangkan hal-hal yang bisa dituangkan dalam tulisan dalam merangkai makna musik dan fuck.

Fuck

Dalam ranah bahasa Inggris kata ‘fuck’ mempunyai properti luar biasa yang tak dimiliki oleh kata-kata lain. Kalau kita ngomong “the F word”, pastilah yang dimaksud kata-kata tersebut, meskipun ada puluhan ribu kata lain yang dimulai dengan huruf F. Dalam pengunaan sehari-hari, kata “Fuck” mempunyai arti yang sangat bermacam-macam. Kalau Anda pernah baca komik Smurf, Anda pasti familiar dengan percakapan diantara mereka dimana seringkali kata-kata kuncinya digantikan dengan kata “Smurf”. Contohnya : “ngantuk banget nih, pengen smurf dulu”. Ide dasarnya seperti itu.

Untuk memberi gambaran lebih jauh, ada beberapa contoh lain tentang penggunaan kata ini. Putus asa, ”Ah fuck it”, bingung,”what the fuck?” memberi penekanan pada arti sebuah kata, ”un-fucking-believeable”, ngusir, ”fuck off”, putus asa, risau, kecemasan,”fuckityfuckfuck” dan seterusnya banyak lagi.

Semestinya, pemahaman kata “fuck” pada ranah bahasa Inggris memberi jalan analogi untuk melihat posisi musik dalam ranah sebuah peradaban. Dari segi definisi, musik mempunyai banyak versi. Dari asal kata mousa (Yunani) yang dalam bahasa Inggris menjadi muse, musik dianggap sebagai sebentuk noise yang terorganisir yang mampu menginspirasi. Dari sisi fungsi, musik memiliki banyak interpretasi. Ada yang berpendapat bahwa musik adalah refleksi dari peradaban dalam bentuk seni dan pengetahuan. Ada juga yang memfungsikan musik sebagai media untuk mengamplifikasi nuansa dari sebuah poin atau cerita yang ingin disampaikan. Prekonsepsi umum yang ada sekarang adalah meletakkan musik sebagai sebuah objek untuk hiburan dan penghidupan tentunya. Tidak ada yang salah, merely different point of views.

Pada dasarnya musik mempunyai potensi yang luar biasa untuk bisa menjadi multi fungsi, multi arti dan multi interpretasi (seperti kata “Fuck”).

Ada bentuk musik yang lahir dari ketertekanan dan marginalisasi, katakanlah Blues dan Rap. Arti musik berevolusi dari outlet kefrustasian, menjadi sebentuk emblem dari sebuah komunitas, kemudian menjadi corong untuk menyuarakan suara komunitas tersebut dan akhirnya ketika mendapat tempat di masyarakat menjadikannya sebuah lapangan industri yang baru.

Industri hiburan

Ada lagi bentuk nyanyian yang melarang nada meloncat terlalu jauh, bahkan melimitasi harmoni, dengan argumentasi holistic. Bukan tanpa alasan, musik jenis ini melahirkan glorius Gregorian yang terdengar megah dan menenangkan jiwa.

Di beberapa contoh yang dituliskan, musik tumbuh melalui tahapan-tahapan dan argumentasi yang jelas untuk berkembang secara konseptual. Yang lahir adalah musik dengan ruh. Ditambah lagi dengan apresiasi pendengar yang mampu dan mau menghargai pertumbuhannya, musik bisa menjadi sebuah bentuk seni dengan ekses ekonomi yang sangat diperhitungkan.

Lalu apa yang akan terjadi kalau musik melewati tahapan yang terbalik ? Dari harapan ekses ekonomi sehingga melahirkan karya musik? (dengan berandai-andai). Musik yang seperti ini adalah musik yang patuh kepada ruh industri. Sehingga lahirlah istilah trend dengan segala macam anatominya. Sebagai orang Indonesia pasti kita sangat familiar dengan set-up seperti ini.

Pertanyaan berikutnya, burukkah itu ?

In my f****** humble opinion, belum tentu. Saya tidak mengatakan saya mendukung 100% bahwa arah musik harus mengikuti trend. Tetapi kondisi sosiologi seperti ini pasti akan menstimulasi para pelakunya untuk bereaksi. Dan reaksi-reaksi ini lah yang berfungsi menjadi bahan dasar atau mentah untuk sebuah expresi seni yang lebih berkembang. Dan ini pastinya menarik untuk ditunggu outputnya. Apakah kita bisa menyaksikan sebuah titik nadir arus musik dengan ruh sales? kita tunggu.

Syarat utama agar proses ini terus berjalan manusiawi hanya ada dua:

Pertama, sebagai musisi, harus memastikan bahwa dalam berproses kreatif kita mampu menarik garis yang jelas dan keras antara inspirasi dan mencontek. Ini sangat penting karena proses terinspirasi akan membawa kita berkembang ke arah kreatifitas, dan mencontek akan justru mematikan alam kreatifitas tersebut.

Kedua, adanya jaminan fairplay, penghargaan yang seimbang antara para pengkarya seni dan penikmat seni. To the point, yang punya kapasitas ini adalah pemerintah. Pemerintah seharusnya mampu menjamin bahwa tak ada hak dari para pengkarya seni yang terabaikan.

Kata kuncinya Haps Pembajakan

Pembunuhan ekses ekonomi dari karya seni secara lambat laun akan membunuh karya seni tersebut, bahkan lebih jauh, para senimannya. Peradaban tanpa seni adalah kering. Pemerintah tanpa kemampuan menjamin akan lebih pantas disebut panitia.

Sudah lama para musisi hanya bisa bilang,”fuck it”. Semoga tahun 2009 ini tidak merubah komentar itu menjadi,”F*** You.”


Sumber: RollingStone Indonesia/26/02/2009

Sabrang Mowo Damar Panuluh, dikenal sebagai Noe Letto, vokalis Band Letto.

Emha: Musik Dan Jagat Politik Republik 2009

Musik Dan Jagat Politik Republik 2009

Kolom: Emha Ainun Nadjib

Emha Ainun Nadjib/RollingStone Indonesia

Emha Ainun Nadjib/RollingStone Indonesia

DATANG pertanyaan kepada saya “apakah musik berperan dalam pemilu 2009?”, saya menjawab, “Ia bukan hanya berperan. Ia memberi watak kepada perilaku politik, memberi nuansa kepada alun iramanya, menginspirasikan koreografi dan orkestrasi demokrasi, musik memimpin gegap gempita jagat perpolitikan Indonesia 2009. Mestinya begitu. Ia sangat potensial untuk itu”.

Saya bukan orang musik, maka posisi saya adalah menghormati dan menyayanginya: kita tidak boleh bersikap cuek kepada apapun di luar dunia kita. Bodoh kalau kita merendahkan suatu wilayah aktivitas yang kita tidak kuasai. Secara ilmu pengetahuan engkau sebaiknya lebih memberi perhatian kepada yang engkau belum ketahui, dibanding yang engkau sudah ketahui. Itulah sebabnya maka saya memilih bekerja keras untuk “mengetahui” dan sejauh mungkin mengelak untuk “diketahui”.


Tidak satu alat musikpun saya mampu gunakan. Pernah coba sentuh-sentuh gitar tapi tiga tahun tidak cukup untuk memindahkan jari jemari saya dari grip satu ke grip berikutnya. Akhirnya saya putuskan, saya mencintai gitar saja, serta mengagumi siapapun yang mampu bermain gitar. Pernah pegang-pegang seruling, hati mau ke notasi Jawa, jari jemari mempergilirkan nada-nada yang tersasar ke Arab. Beberapa lama bergaul dengan seruling besar Shakuaji, tapi yang saya dapatkan bukan keterampilan musik, melainkan latihan pernafas-an dan konsentrasi batin.Sudahlah. Inilah posisi hidup saya: menjunjung tinggi para pekerja musik dengan hati takjub, memuja keindahan karya mereka di lubuk kalbu.


Agak sedih juga menyaksikan dari zaman ke zaman kaum pemusik “menjual murah” dunia musik. Anak-anak remaja belajar dan diajari mempersempit dimensi jagat musik. ‘Kosmologi’ musik hanya diambil bagian yang pragmatis: notasi, nada, irama, aransemen, aliran, album, pasar, dengan rumbai-rumbai entertainment sampai kadar yang menjijikkan, mengisi rubrik-rubrik tayang yang memanjakan mereka seolah-olah lebih penting dibanding para Nabi dan pemimpin-pemimpin revolusioner dunia.

Pekerjaan musik menjadi pekerjaan sangat eksklusif dan ruangan yang sebenarnya sempit, tetapi meminta derajat dan social-positioning terlalu tinggi secara kebudayaan, dengan ongkos sensasi, lonjak-lonjak tepuk-tepuk dan eksentrisisme. Para pemusik tidak terlalu memperhatikan dan mensyukuri bahwa musik hadir dalam peta sejarah yang lebih luas, sehingga sesungguhnya mereka bisa hadir lebih dari sekedar menjadi “abdi dalem oceh-ocehan” atau “klangenan” yang hanya menumpang fasilitas zaman – tanpa pernah mengambil posisi untuk menciptakan paradigma zaman.


Ilmu musik diambil oleh para pemimpin sejarah untuk menggiring ritme kekuasaan dan menyusun skema aransemen penguasaan, menentukan momentum-momentum yang tepat untuk intro, urutan verse, tanjakan chorus, juga middle of eight-nya. Para penyusun skenario sejarah mengasah kepekaan pada momentum, memilih cengkok-cengkok untuk suatu keperluan politik dan diplomasi, merancang sejak awal coda-nya.


Para pengambil keputusan negara dan masyarakat menggunakan ilmu musik untuk memahami mapping zaman di hadapannya: mana gendangnya, mana anasir kenong kempul saron demungnya, mana underground karakter gender-nya, bagaimana menyimpan gong dalam rahasia intelijen untuk ditabuh dengan determinasi dan akurasi pada detik yang tepat.


Gong kepresidenan Obama berdengung November tahun lalu, tapi gendang awalnya lebih sepuluh tahun sebelumnya. Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 adalah produk instant-improvization setengah-bar sesudah kemerdekaan Korea Selatan. G30S 1965 sudah digendangi sejak 1958 oleh para ‘Siluman’, juga berkuasanya Soeharto sesudah keributan itu.


Bung Karno mengkonduktori simfoni-simfoni besar yang mengguncang dunia. Soeharto dengan ilmu musik kamarnya, men-detail watak do hingga si, sampaipun bes dis cis, mayor minor, dengan frame filosofi musik “Ngelmu Katuranggan” (hakikat dan wibawa setiap unsur dalam musik) dan “Ngelmu Pranoto Mongso” (watak-watak, musim-musim, nuansa-nuansa, pause-pause, dataran dan tanjakan).


Jangan lupakan juga simfoni anti-musiknya Gus Dur, musik-bukan-musiknya Mega, orkestra datar SBY dan mestinya akan tercipta suatu paradigma simfoni 2009, karena para pemusik melakukan transendensi, melompati jasad zaman, membangun kualitas peran, menolak menjadi sekedar sub-tools of politic: menyanyi di medan kampanye, membikinkan album “campur sari” atau pop calon presiden, atau memanfaatkan kebodohan zaman yang kehilangan sense of competency dengan berebut menjadi caleg, cawagub, cawabup.

Musik mampu mengubah kehidupan seseorang secara sangat mendasar dan menyangkut prinsip paling inti dalam hidupnya. Saya punya banyak teman, sebagaimana Neil Armstrong menikmati keyakinan agama barunya ‘hanya’ karena mendengar suara adzan. Cat Stevens (Yusuf Islam) tidak bermusik 20 tahun lebih sampai suatu malam menonton pertunjukan Kiai Kanjeng di SOAS London. Dia pengikut suatu aliran tertentu dari (produk tafsir) Islam. Ia menunggu 20 tahun lebih untuk menemukan di dalam dirinya bahwa ternyata bisa menjadi muslim yang baik sekaligus menjadi pelaku musik yang baik.


Ia menemui saya di belakang panggung ketika istirahat pentas SOAS itu dan bertanya:

“Apa tidak ada masalah seorang muslim bermusik?”
Saya balik tanya: “Tadi mas Yusuf datang ke sini dari rumah pakai apa?”
“Maksudnya?”
“Pakai trem, bus atau kendaraan sendiri?”
“Saya bawa mobil sendiri bersama istri saya.”


“Tidak ada masalah bagi setiap muslim untuk me-ngendarai mobil dan pesawat, menaruh kulkas di rumah, memakai mobile phone ke mana-mana, meskipun hampir tak satupun dari benda-benda itu yang merupakan hasil karya kaum muslimin. Kami dari Indonesia membawa Gamelan Kiai Kanjeng sebagaimana Anda membawa mobil. Tadi Anda membunyikan klakson, menyetir dengan irama, menginjak gas dengan takaran nada. Itu semua hanya alat. Yang salah bagi muslim hanya dua. Pertama, membawa musik ke dalam masjid dan memainkan musik mengiringi orang shalat, serta mencampurkan ibadah mahdloh lainnya dengan musik. Masalah kedua bagi setiap muslim adalah tidak menomorsatukan Tuhan, menyakiti orang lain, mengambil yang bukan haknya, serta hal-hal semacam itu yang orang tak perlu sekolah untuk mengetahuinya”.


Sesudah itu Cat Stevens bikin album lagi.

Dengan musik Kiai Kanjeng saya berkeliling ke tujuh kota Belanda Oktober 2008, masuk gereja-gereja Protestan dan Katolik, masuk synagoge dan masjid-masjid (tentu saja di hall-nya, bukan di depan Mihrab). Kami berjumpa dengan para pemimpin semua agama yang berlaku di sana. Salah satu hasilnya adalah lahir “Deklarasi Damai” antara umat Islam, umat Kristiani dan umat Yahudi seluruh negeri Belanda, yang di-launching 8 Januari 2009 – meskipun dalam skala internasional dilukai oleh pe-nyerbuan Gaza.


Andaikan saya pemusik, saya ingin turut mengaransir 2009-nya Indonesia. Kalau tidak, ya sesudahnya. []

Sumber dan Foto : RollingStone Indonesia/28/01/2009

Gontor Itu Indah

Kolom: Emha Ainun Nadjib

Emha Ainun Nadjib

Emha Ainun Nadjib

ADA alasan kuat yang membuat saya tak dituduh “memuji-muji dan membangga-banggakan Gontor karena memang bekas almamaternya”. Pada awal 1968, pasca-“revolusi lokal” yang gagal, saya mathrud alias diusir atawa dipecat dari pondok modern itu.

Ketika itu berlangsung semacam martial law. Hukum darurat. Gara-gara memprotes ketidakadilan Qismul Amn, semacam kopkamtib. Pak “pangkopkamtib” mengadili saya jam 02.00 dini hari hingga bakda subuh. Vonisnya, saya dideportasikan pagi itu juga, alias “gulung tikar angkat koper”– demikian istilahnya di sana.

Beberapa hari kemudian, saya ke Gontor lagi khusus untuk petentang-petenteng. Tak sampai setahun kemudian “panglima” keamanan dan ketertiban ini mengalami nasib seperti saya, “gulung tikar angkat koper”. Namun, sejak itu “situasi politik” normal kembali.

Saya mensyukuri hikmah dari pengadilan subyektif itu. Bahkan penghargaan saya terhadap Gontor sama sekali tak pernah menurun. Pesantren masyhur itu, di masa silam memang pernah mencatat suatu mekanisme sistem hukum yang brutal dan agak primitif. Namun, secara keseluruhan, pola dan nuansa kependidikan Gontor adalah contoh kongkret dari banyak hal yang dewasa ini kita baru menggagas-gagasnya lewat perdebatan pemikiran di kota-kota yang selalu merasa lebih maju dibanding yang bukan kota. Dan bagi saya sendiri, pengusiran itu adalah metode yang sebaik-baiknya- suatu total alienation untuk suatu total loneliness- yang menyiksa saya untuk menjadi saya sekarang ini.

Sejak itu saya amat rakus dengan metode “bersikap sangat keras bahkan kejam kepada diri sendiri” dan menyeleksi cita-cita menjadi hanya sebiji: bekerja keras sampai hari terakhir hidup saya. Pernah saya menulis Gontor adalah camp Shaolin. Para santri bekerja dari pukul 04.00 hingga 22.00 nonstop, hidup dari bel ke bel. Makan, mandi, olahraga sekolah berduyun-duyun, tidur berjajar-jajar bagai pindang. Setiap anak berlatih membangun privacy, mendengarkan kesunyian diri, di tengah riuh-rendah.

Bahkan gegap-gempita latihan pidato tiga bahasa dan gemuruh tepuk tangan itu justru terasa begitu sepi di tengah sunyi pedusunan sekitarnya. Kalau di tengah sepi malam Anda membunyikan sedenting logam, suara itu menegaskan kesunyian.

Sepi juga isi pidato anak-anak itu: heroisme nasional, kisah tokoh-tokoh pengubah dunia, jargon-jargon bahasa Inggris, balaghah Arab, perekatan umat dan kemanusiaan- di tengah-tengah tradisi satu antargolongan Kaum Muslimin, degradasi nasionalisme, jangkauan-jangkauan sosio-politik dan sosio-budaya yang makin menyempit, tatkala teknologi informasi menyeribu-kali-lipatkan mata pandang manusia, serta di tengah idolatri masal terhadap hanya figur-figur musik rock dan kiper sepak bola.

Namun, yang paling sunyi adalah ketika datang magrib, isya, dan subuh. Tiga ribu santri menyuarakan kor puisi Abu Nawas tentang dosa sebilangan pasir di padang-padang yang tak terukur karena bertepikan cakrawala. Untunglah, yang mendendangkan sunyi adalah “seekor” Abu Nawas yang “sinting”: “Ya Allah, hamba ini tak potongan masuk surga, tapi kalau harus masuk neraka ya jangan dong!”…. Mendengarkan syair Abu Nawas macam itu sering tak bisa saya halangi benak saya spontan berkata, “Tuhan pasti jengkel, tapi juga pasti sayaaang banget sama si Abu itu ….”

Dan pada Lebaran yang lalu, hati saya tak tertahankan untuk tak ke Gontor sesudah hampir 15 tahun. Puisi Abu Nawas tak bisa dipentaskan keagungannya dengan kecanggihan peralatan apa pun, dan sejauh yang saya alami hanya di Gontor saya bisa memasuki puisi hidup Abu Nawas (baca: Abu Nuwas), karena segala konsep estetika dan religiusnya dipanggungkan di kedalaman jiwa dan kehidupan kongkret Pesantren Gontor.

Kemudian ternyata Pak Kiai menyodorkan sunyi pula kepada saya. Ketika untuk acara Delapan Windu Gontor saya rekomendasikan sebuah nama tokoh nasional, Kiai bilang, “Ah, bagi beliau Gontor ini dekaden. Tidak menyatu dengan masyarakat. Eksklusif. Tidak seperti pesantren-pesantren pilot project LSM yang beliau pimpin yang mengintegrasikan pondok ke masyarakat sekitarnya
dengan kerja sama sosial ekonomi, bikin pelatihan pertukangan, pertanian, kerajinan, kewiraswastaan ….”

Kok, ada kiai minder begitu. Kan Gontor juga punya keistimewaannya sendiri: pendidikan bahasa, disiplin, dan “sunah pondok”-nya, tidak NU tidak Muhammadiyah. Santri-santrinya terkenal artikulatif dan kepribadiannya.

Maka, sunyi itu menyeret kaki saya keliling pesantren, bahkan sekelilingnya dalam radius setidaknya lima kilometer. Mata sunyi saya menatapi santri-santri yang sedang sibuk mengurusi toko besi dan perlengkapan bangunan, apotek, rumah sakit mini, huller alias dolognya pondok yang bekerja sama dengan ribuan petani, rumah makan. Mereka mengatur pembelian jasa ratusan penduduk untuk keperluan sehari-hari para santri, masjid-masjid para warok, toko kelontong alias toserba, toko buku. Para santri juga mendirikan bangunan sekolah di sekitar, mengangkuti padi, mendekor seantero pesantren dengan rancangan estetik yang sebebas-bebasnya asal jangan memelihara monyet, pramuka, musik, teater ….

“Ah! Tapi itu bukan inisiatif saya, kok,” ujar Pak Kiai malu-malu, “Wong, itu semua ide anak-anak sendiri ….”

Gontor dan dusun-dusun sekitarnya itu small is beautiful, kecil itu indah. Distribusi pendapatan, distribusi ide dan tanggung jawab, kelangsungan bottom up murni tanpa proposal ke lembaga dana di planet Mars untuk proyek konsientisasi, demokrasi yang diinfrastrukturi oleh ilmu tentang batas, akidah, dan ilahiah, lempar tongkat jadi tanaman, bola salju, bola salju, bola salju.

Kiai tak pernah kasih ceramah atau pengajian. Sesudah uluk salam di podium masjid, langsung bilang, “Tolong, saya minta daftar pengaturan rombongan santri yang mengangkuti batu bata untuk sekolahan yang di desa Anu itu ….”.

Sumber: Majalah Tempo, Edisi. 17/XXII/15 – 21 Juni 1991

Foto: RollingStone Indonesia

Kubangan Sop Bebek

Kisah: KangMunzir

sop bebek

sop bebek

Saya punya kawan kampung, namanya Sahlan. Namanya berbau arab, tapi asli ndeso. Tindakannya sering kurang dipahami orang sekampung, seringkali absurd.

Suatu hari Sahlan sedang main di pinggiran ladang, entah mencari apa. Ada beberapa ekor bebek sedang mencari ikan di kubangan sawah, memang agak dalam jadi menyerupai danau. Jernih airnya. Dalam benak Sahlan, bebek-bebek ranum ini kelihatannya lezat jika dijadikan masakan. Kwe-kwek. Hewan serumpun dengan burung ini berenang kian kemari. Bersenang-senang. Secara hati-hati, berjalan perlahan, Sahlan mencoba menangkapnya. Satu ekor cukup, pikirnya. Sahlan kurang ahli, ia bukan pangon bebek. Berlarianlah kesana-kemari. Tak satupun bebek ranum itu tertangkap.

Beberapa orang yang lalu lalang memperhatikan dengan diam. Tapi dengan senyum tertahan. Tiada yang berkomentar. Bebek-bebek itu tak bertuan, jadi tidak ada yang protes.

Adegan berikutnya, Sahlan membuka rantang dalam tas kain lusuhnya. Tepatnya bukan tas. Tapi sarung yang diikat sedemikian rupa sehingga menyerupai tas dan bisa dicangklong. Dengan tangannya ambil air kubangan secukupnya dan dimasukkan dalam rantang nasi. Orang-orang terheran-heran dan ada yang bertanya. Gerangan apa yang ia lakukan.

“Saya sedang menikmati sop bebek,” jawabnya acuh tak acuh.

Hah….! []

________

*)Cerita ini fiktif, dari berbagai sumber dan diolah sesuai kebutuhan.

Sabrang Yang Dingin

Catatan: KangMunzir

noe letto

DINGIN. Kesan pertama saya terhadap anak semata wayang Emha Ainun Nadjib; Sabrang Mowo Damar Panuluh. Kala itu, ia masih kecil. Seumuran anak SD. Ia tinggal di Metro, Lampung, bersama ibunya, Neneng Suryaningsih.

Jika libur sekolah tiba, ia bersama ayahnya menghabiskan waktu di Yogyakarta. Karena saya sendiri ikut tinggal di rumah ayahnya, sudah barang tentu saya juga sangat dekat dengannya. Saya sering mengantar kesana kemari di Yogya untuk sekedar jalan-jalan mengelilingi kota.

Meskipun kesannya dingin, Sabrang suka sekali usil. Yang tidak pernah saya lupakan tatkala saya antar ke Stasiun Tugu Yogyakarta. Tempat ini yang paling disukai Sabrang. Ia cinta banget sama kereta api. Di malam hari, kami mengelilingi seluruh sudut stasiun. Gerbong-gerbong kereta satu persatu dimasuki. Tiba-tiba ia menghilang. Ia lepas dari perhatian saya. Saya sangat ketakutan. Bagaimana saya harus mempertanggungjawabkan kepada ayahnya. Selama dua jam saya cari kesana kemari di sekitar stasiun. Hampir putus asa dibuatnya. Tiba-tiba ia muncul sambil tertawa terbahak-bahak. Ternyata ia ngumpet masuk salah satu gerbong yang memang gelap. Saat saya masuk ke tempat persembunyian, secara diam-diam ia menyingkir ke gerbong lainnya.

Tatkala suatu masa saya tinggal di Bandar Lampung, Sabrang sempat mengunjungi saya. Saya ajak jalan dan saya antar pulang ke Metro. Saking seringnya jalan bareng, saya tahu makanan favoritnya; Sate Ayam Bumbu Kacang. Mungkin satenya bisa saja diganti yang lain, tapi bumbu kacang itu, jangan. Mungkin lebih tepatnya, sambal kacangnya yang disuka. Maka ketika berangkat kuliah ke Kanada, Novia Kolopaking, ibu tirinya, menyediakan bumbu kacang instan berbung-bungkus. [Ibu Kami, eyang uti-nya Sabrang di Metro juga membuatkan secara khusus ‘bumbu pecel’ itu. Sangat banyak orang-orang dekat yang sangat menyayangi. Catatan tambahan: penulis]

Sampai kemudian proses pembentukan Letto, meskipun saya sudah tinggal di Jakarta, saya tetap mensuportnya. Beberapa lagu Letto untuk demo, aku minta. Sampai saat inipun, tatakala habis pentas live di telivisi, saya sering sms mengomentari penampilannya. Kadang saya bilang: “Fals.” Di saat lain kalau memang bagus, saya bilang ok.

Pesan saya, tetap seperti Sabrang yang saya kenal sejak kecil. Tetap rendah hati terhadap siapapun saja.[]

Cipete Dalam, Maret 2009

*)Tulisan ini diminta oleh Toto Rahardjo untuk melengkapi pengantar dan penutup Buku Saku “Paseduluran Tanpa Tepi” tasyakuran pernikahan Sabrang – Uchi, 26 Maret 2009 di Monjali, Jogjakarta.

Demokrasi La Raiba Fih

resensi buku:

Demokrasi itu harga mati.
Demokrasi itu kebenaran sejati.
Demokrasi itu La roiba fih, tak ada keraguan padanya.

Demokrasi itu bak “perawan” yang merdeka dan memerdekakan. Watak utama demokrasi adalah “mempersilahkan”. Tidak punya konsep menolak, menyingkirkan atau membuang. Semua mahluk penghuni kehidupan berhak hidup bersama “si perawan” yang bernama demokrasi, bahkan berhak memperkosanya; yang melarang memoerkosanya bukan si perawan itu sendiri, melainkan “sahabat”nya yang bernama moral dan hukum.

Dengan Rasa nasionalisme yang tinggi buku ini mengulas masalah pemilihan presiden, golput, paguyuban ahli surga, bahkan menyentil negeri kita layaknya Gatotkaca gagah perkasa tapi menderita sakit lupus. Dan yang tak kalah penting, bagaimana soal Islam Indonesia yang bersikap “look up” kepada Timur Tengah, sementara Timur Tengah cenderung “look down” kepada Islam Indonesia. Bagaimana sikap kita terhadap ini?

Inilah Lagu Iblis Letto

Catatan: KangMunzir

Apa sih lagu religius itu?

Ada kesalahan fatal masyarakat kita, khususnya kalangan industri; baik pencipta lagu, penyanyi dan label; dalam hal memahami lagu religius. Mereka beranggapan bahwa lagu religius (ada yang menyebut istilah ‘lagu rohani’) adalah jenis aliran musik tertentu –berbau musik arab, melayu, padang pasir atau gospel—dengan lirik yang menyebut nama Tuhan, Malaikat, Hari Akhir atau untaian ayat-ayat Kitab Suci. Juga dalam momentum waktu peluncuran atau menyanyikannya pada saat-saat tertentu. Bagaikan musim; kemarau, hujan, ramadhan, lebaran, natal, imlek…

Padahal dalam pemahaman keagamaan –-religiusitas— agama apapun; dari sejak bangun tidur, buang air besar, cuci piring, mencari nafkah, sampai ke liang lahat adalah pekerjaan agama. Ironisnya, pelantun-pelantun shalawat-pun tidak memahami hal ini. Mereka mengikuti arus industri, setiap menjelang ramadhan bekerja keras merampungkan ‘album religi’ untuk pada saatnya nanti di-launch ke pendengar.

Kehadiran Letto, band yang bermarkas disebuah gang, Gang Barokah, Kadipiro, Bantul, Jogjakarta; mematahkan pemahaman itu. Mereka menolak keras membuat album religi dengan pemahaman yang sesat itu.

Dalam satu wawancara dengan sebuah majalah internasional terbitan Indonesia, Noe, vokalis Letto, ketika ditanya; mengapa Anda tidak menjadi penyanyi tembang religi, mengungkapkan:

“Karena kita tidak percaya dengan lagu religius. Kalau ada lagu religius berarti ada lagu tidak religius dong. Padahal semua hal menurut kita bisa diambil sisi religiusnya. Mau ngomong kambing sampai tai sapi, semuanya bisa religius juga. Bukan lagunya, tapi bagaimana kita mengambilnya.”

Letto, yang digawangi empat anak muda; Noe (vokalis, penulis syair, keyboard); Patub (guitar); Arian (bass) dan Deddy (drum); jauh-jauh hari bertekad membuat musik yang apik, dengan syair-syair yang jelas membawa pesan; meskipun vokal Noe yang biasa-biasa saja. Soal vokal ini secara jujur diakui sendiri oleh Noe bahwa ia menjadi vokalis adalah sebuah musibah. Ia menjadi korban. Teman-temannya tidak ada yang mau jadi vokalis, terpaksa menjadi terdakwa.

Dalam suatu wawancara radio, baru-baru ini, Noe membuka rahasia, yang selama ini ditutup rapat. Bahwa dalam album terbarunya “Lethologica” terdapat satu lagu untuk iblis. Hah…!!!

Apakah lagu yang diciptakan untuk iblis termasuk lagu religi? Benar-benar gila. Jelas, kalau mengikuti arus pemahaman ‘lagu religi’ yang selama ini kita kenal, lagu itu termasuk ‘tembang setan.’ Bukan lagu religi. Masa iblis dibikinkan lagu.

Lagu iblis ini berjudul: “Kepada Hati Itu.” Iblis mengungkapkan hatinya yang terdalam, ia bertugas mengganggu manusia, namun manusia ini terlalu kuat. Ia selalu berserah diri pada Tuhan.

Kepada Hati Itu

Kerasnya hatimu aku tak mampu
Aku tak mau memintanya
Betapa diriku terus mencoba
Tapi merasa ku tak berdaya

Sepanjang waktumu, tak kau biarkan
Tak kau lepaskan keinginanmu
Mencoba bertahan dari hatiku
Keinginanku memilikinya

Kepada hati itu aku terlena
Dimana kau berada, aku terbawa
Kepada hati itu ku terus mencoba
Dimana kau berada, engkau milik-Nya

Harumnya nafasmu sangat sejuk
Sangat pantas di jiwamu
Begitu terasa lapar dahaga
Kasih dan cinta yang kau punya

Kepada hati itu aku terlena
Dimana kau berada, aku terbawa
Kepada hati itu ku terus mencoba
Dimana kau berada, engkau milik-Nya

Kepada hati itu aku terlena
Dimana kau berada, aku terbawa
Kepada hati itu ku terus mencoba
Dimana kau berada, engkau milik-Nya

Kepada hati itu aku terlena
Dimana kau berada, aku terbawa
Kepada hati itu ku terus mencoba
Dimana kau berada, engkau milik-Nya

Kalau saja Noe tidak membuka rahasia itu, kita berpikiran dan menafsirkan bahwa lagu ini lagu cinta biasa, ungkapan seseorang terhadap kekasihnya, yang hatinya belum menerima cintanya.

Sebagaimana lagu “Sandaran Hati” dalam album pertama Letto. Sandaran hatinya adalah antara manusia yang dimabuk asmara dengan kekasihnya (dengan ‘nya’ kecil). Enam bulan berikutnya orang baru ‘ngeh’ bahwa lagu ini semacam doa sang hamba dengan Sang Kekasih (Tuhan). Segala permasalahan kehidupan bersandar lepada Tuhan.

Dalam album kedua, Sebelum Cahaya, orang juga dibebaskan menafsirkan, apa kandungan terdalam syair lagu tersebut. Sampai akhirnya ada yang menyebut bahwa ini adalah cerita tentang ketekunan seorang hamba yang menjalankan shalat malam. Sekali lagi orang bebas menafsirkan.

Emha Ainun Nadjib, ayahnya Noe, puluhan tahun lalu telah menulis puisi “Jalan Sunyi.” Ada kalimat yang hampir mirip pada lagu Sebelum Cahaya, yaitu “perjalanan sunyi.” Maka tidak heran ada yang mengutak-atik-gatuk bahwa lagu ini diperuntukkan ayahndanya tercinta.

Karena perjalanan Emha adalah perjalanan sunyi, sangat jarang orang yang mau menempuhnya. Perjalanan sendiri. Dengan setia, meski tidak jarang difitnah, dicekal, Emha tetap berjalan. Terus berjalan. Hal ini disadari betul oleh Emha sejak muda. Maka ketika anak pertamnya lahir dinamai: Sabrang Mowo Damar Panuluh. Berjalan di atas bara api dengan membawa obor sebagai penerang jalan kemanusiaan. Itu yang dilakukan Emha sampai sekarang, dan sang anak berjanji akan setia menemani.[]

*) Tulisan ini sudah dipublish dengan nama samaran, judul juga sudah dirubah sedikit, tema dan isi tetap sama. Mohon maaf kepada yang pernah membaca.

Yaxshimusiz, ismiqiz nime…?

Catatan: KangMunzir

gadis cilik uighur

“Yaxshimusiz, ismiqiz nime…?” Agak terbata-bata mengejanya. Kita berada di belahan dunia lain, sangat jauh, tuturan kalimat tersebut sangat asing. Sekilas mirip bahasa Turki. Atau China? Bukan. Kalimat yang artinya “Apa kabar, siapakah namamu?” biasa diucapkan oleh orang-orang Uighur, untuk orang yang baru dikenalnya.

“Uighur” tiba-tiba menjadi sangat akrab. Etnis Uighur sejak lama tinggal di Urumqi, Xinjiang Uighur, bagian dari Republik Rakyat China. Bahasa Uighur akarnya berasal dari bahasa Turki Kuno. Warga Uighur, yang seluruhnya menganut agama Islam. Semula merupakan penduduk mayoritas di wilayah Xinjiang. Xinjiang berbatasan langsung dengan Rusia, Mongolia, Kazakhstan, Kyrgystan, Tajikistan, Afghanistan, Pakistan dan India. Hampir semua bagian tanahnya berupa padang pasir, namun sangat kaya dengan kandungan sumber daya minyak, gas dan tambang. Perekonomian di wilayah otonom ini, selain potensi minyak bumi, gas dan tambang adalah digerakkan oleh sektor pertanian dan perdagangan. Dan Kasghar, merupakan kota utama yang menjadi pusat perdagangan di Xianjiang ini.

Xinjiang merupakan wilayah provinsi otonomi yang dipimpin oleh seorang Gubernur, warga Muslim Uighur. Namun kenyataannya kekuasaan riil dipegang oleh seorang sekretaris jenderal dari Partai Komunis China, Wang Lequan, etnis Han.

Kondisi geologis Xinjiang yang sangat potensial akan sumber alamnya, menjadi magnit tersendiri. Sejak 20-30 tahun terakhir, banyak imigran China muda, etnis Han, yang secara intelektual sangat cakap, secara bertahap berdatangan ke wilayah ini. Mereka akhirnya menguasai sektor-sektor riil, warga Uighur sendiri kemudian tersingkir. Para pendatang ini tidak mau belajar bahasa Uighur, mereka lebih menyukai bahasa China. Sementara warga Uighur tidak banyak yang bisa bercakap bahasa China.

Dengan kenyataan ini, warga asli Muslim Uighur semakin terpinggirkan, yang semula mayoritas menjadi minoritas –secara kultural dan kecakapan. Total penduduknya sekitar 20 juta, hanya sisa 45 persen atau 9 juta, selebihnya imigran suku Han dan sedikit suku lainnya. Suku Han adalah suku terbesar di China.

Sementara pemerintah pusat hanya mempekerjakan imigran yang lebih mahir berbahasa China, dan orang-orang Uighur dianjurkan untuk mencari pekerjaan di wilayah-wilayah lain China.

Di samping itu, kebebasan menjalankan peribadatan Islam sangat dibatasi. Pemerintahan Beijing tidak mengizinkan anak-anak di bawah usia 18 tahun menjalankan peribadatan di Mesjid. Aturan ini diberlakukan juga untuk pejabat Partai Komunis dan aparat pemerintah. Jumlah mesjid semakin merosot dibanding tahun 1949, awal Uighur menjadi provinsi otonomi.

Semua agama di China memang diatur dan diawasi oleh lembaga Administrasi Negara Urusan Keagamaan. Namun pembatasan terhadap Muslim Uighur lebih ketat dibanding agama atau etnis lain.

Tidak heran maka akhir-akhir ini muncul ketidakpuasan warga Uighur terhadap kondisi yang represif dan tidak adil. Protes terjadi di seluruh wilayah. Namun dengan tangan besinya, pemerintah pusat membantai warga negaranya sendiri. Ratusan korbanpun tewas oleh aparat keamanan.

Rehmet sizge.[]