Yaxshimusiz, ismiqiz nime…?

Catatan: KangMunzir

gadis cilik uighur

“Yaxshimusiz, ismiqiz nime…?” Agak terbata-bata mengejanya. Kita berada di belahan dunia lain, sangat jauh, tuturan kalimat tersebut sangat asing. Sekilas mirip bahasa Turki. Atau China? Bukan. Kalimat yang artinya “Apa kabar, siapakah namamu?” biasa diucapkan oleh orang-orang Uighur, untuk orang yang baru dikenalnya.

“Uighur” tiba-tiba menjadi sangat akrab. Etnis Uighur sejak lama tinggal di Urumqi, Xinjiang Uighur, bagian dari Republik Rakyat China. Bahasa Uighur akarnya berasal dari bahasa Turki Kuno. Warga Uighur, yang seluruhnya menganut agama Islam. Semula merupakan penduduk mayoritas di wilayah Xinjiang. Xinjiang berbatasan langsung dengan Rusia, Mongolia, Kazakhstan, Kyrgystan, Tajikistan, Afghanistan, Pakistan dan India. Hampir semua bagian tanahnya berupa padang pasir, namun sangat kaya dengan kandungan sumber daya minyak, gas dan tambang. Perekonomian di wilayah otonom ini, selain potensi minyak bumi, gas dan tambang adalah digerakkan oleh sektor pertanian dan perdagangan. Dan Kasghar, merupakan kota utama yang menjadi pusat perdagangan di Xianjiang ini.

Xinjiang merupakan wilayah provinsi otonomi yang dipimpin oleh seorang Gubernur, warga Muslim Uighur. Namun kenyataannya kekuasaan riil dipegang oleh seorang sekretaris jenderal dari Partai Komunis China, Wang Lequan, etnis Han.

Kondisi geologis Xinjiang yang sangat potensial akan sumber alamnya, menjadi magnit tersendiri. Sejak 20-30 tahun terakhir, banyak imigran China muda, etnis Han, yang secara intelektual sangat cakap, secara bertahap berdatangan ke wilayah ini. Mereka akhirnya menguasai sektor-sektor riil, warga Uighur sendiri kemudian tersingkir. Para pendatang ini tidak mau belajar bahasa Uighur, mereka lebih menyukai bahasa China. Sementara warga Uighur tidak banyak yang bisa bercakap bahasa China.

Dengan kenyataan ini, warga asli Muslim Uighur semakin terpinggirkan, yang semula mayoritas menjadi minoritas –secara kultural dan kecakapan. Total penduduknya sekitar 20 juta, hanya sisa 45 persen atau 9 juta, selebihnya imigran suku Han dan sedikit suku lainnya. Suku Han adalah suku terbesar di China.

Sementara pemerintah pusat hanya mempekerjakan imigran yang lebih mahir berbahasa China, dan orang-orang Uighur dianjurkan untuk mencari pekerjaan di wilayah-wilayah lain China.

Di samping itu, kebebasan menjalankan peribadatan Islam sangat dibatasi. Pemerintahan Beijing tidak mengizinkan anak-anak di bawah usia 18 tahun menjalankan peribadatan di Mesjid. Aturan ini diberlakukan juga untuk pejabat Partai Komunis dan aparat pemerintah. Jumlah mesjid semakin merosot dibanding tahun 1949, awal Uighur menjadi provinsi otonomi.

Semua agama di China memang diatur dan diawasi oleh lembaga Administrasi Negara Urusan Keagamaan. Namun pembatasan terhadap Muslim Uighur lebih ketat dibanding agama atau etnis lain.

Tidak heran maka akhir-akhir ini muncul ketidakpuasan warga Uighur terhadap kondisi yang represif dan tidak adil. Protes terjadi di seluruh wilayah. Namun dengan tangan besinya, pemerintah pusat membantai warga negaranya sendiri. Ratusan korbanpun tewas oleh aparat keamanan.

Rehmet sizge.[]

2 thoughts on “Yaxshimusiz, ismiqiz nime…?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s