Sabrang

Sabrang
Catatan:  KangMunzir

sabrang

sabrang kecil

SABRANG Mowo Damar Panuluh. Nama yang panjang. Bahkan untuk masyarakat Jawa, nama ini cukup aneh. Unik. Emha Ainun Nadjib, ayahnya, sangat mencintainya. Saat itu Sabrang sudah kelas 6 SD di Metro, Lampung Tengah, mengikuti ibunya Neneng Suryaningsih, yang sudah berpisah dengan Emha. Namun hubungan dan komunikasi Emha dengan keluarga Metro tetap terjaga dengan baik. Sabrang murid SD ini, kelak dikenal orang sebagai Noe Letto, vokalis grup band Letto.

Hampir tiap bulan Emha ditemani Uki Bayu Sedjati sahabatnya dari Jakarta, seorang wartawan, membeli berbagai macam buku untuk dipaketkan ke Metro. Untuk ukuran seusia anak SD, jangan Anda bayangkan Emha mengirim buku-buku pelajaran sekolah atau komik-komik Jepang. Emha memilihkan buku-buku karya Buya Hamka; Sufi Modern, Tafsir Al-Azhar dan buku-buku sastra ‘berat’ misalnya karya Mochtar Lubis.

Setumpuk buku-buku itu dalam waktu kurang dari sebulan, sudah habis dilahapnya. Emha sendiri kadang heran dan mengabarkan kepada Uki.

“Ini dibaca atau dibakar sih?”

Sabrang sendiri gelisah jika sudah tidak ada buku lagi untuk dibaca. Ia tidak bisa diam. Maka dicarilah buku-buku silat karya Bastian Tito, jangan heran jika buku ‘sekali baca habis’ ini menumpuk, hampir tiap edisi terbaru dicari.

Sabrang kecil ternyata punya pikiran cerdik. Buku-buku yang menumpuk sudah terbaca, ditata dengan rapi di rak-rak buku dan disewakan kepada teman sebayanya dengan tarif seratus rupiah. Sudah bisa diduga, kenyataannya seringkali teman-temannya tidak mau membayarnya. Ia sendiri tidak tega menagihnya.

Suatu hari Emha meminta saya untuk mencari guru ngaji. Ya, guru ngaji, saat itu istilah ‘ustadz’ belum sepopulair sekarang. Saya mendatangi Yayasan Tunas Melati, pimpinan Bapak Suroyo MA, mencari guru ngaji yang mau diajak ke Metro. Guru ngaji itu saya antar sampai ke Metro untuk jangka waktu tiga bulan. Mohon maaf, nama guru ngaji yang dari Kebumen itu, saya lupa namanya. [Moga-moga Allah selalu meberi rahmat dan keberkahan dalam hidupnya].

Sejak saat itu tiap malam Sabrang bersama beberapa kawannya ngaji di bawah bimbingan seorang guru ngaji dari Jogjakarta.

Dalam hal mendidik anak, barangkali Emha agak berbeda dengan kebanyakan orang tua. Emha lebih banyak berdialog, meskipun anaknya masih kecil. Ia mengenalkan “Tuhan” dengan memaparkan tentang alam. Tentang malam berganti siang, gunung-gunung, awan yang menjadi hujan, luruhnya dedaunan, atau embun di pagi hari.

Emha mendidik dengan unik. Tidak jamak untuk ukuran umum. Mungkin semacam latihan ‘lelaku.’ Pernahkah Anda jalan kaki untuk jarak 6 M (enam meter) ditempuh dalam 15 (lima belas) menit? Biasanya lomba jalan atau lari itu siapa yang paling cepat. Seratus meter ditempuh 10 detik. Cepat ‘kan? Tapi ini kebalikannya. Lambat sekali. Dan Emha menyuruh Sabrang untuk melakukan itu. Ini gila. Bahkan saudara-saudaranya di Metro terheran-heran, lomba apaan itu. Gilanya, Sabrang ya mau. Dan bisa menempuh jalan yang amat lambat untuk jarak 6 meter dalam waktu 15 menit. Dan berhasil. Emha sangat terharu dan merangkulnya.

Ternyata ini adalah uji kesabaran. Hasilnya adalah kelak. Sabrang bukan termasuk orang yang menggebu-gebu. Kadang tanpa ekspresi. Kesannya dingin. Sedih atau bahagia tidak tampak. Emha sendiri kadang bingung menafsirkan.

“Yo opo anakku iki, berpisah gak mau salaman….”

Ini terjadi di Bandara Soekarno Hatta ketika Sabrang pertama kali mau berangkat kuliah ke Kanada. Dengan ibu tirinya, Novia Kolopaking, yang Sabrang memanggilnya “Mbak Yah” justru berangkulan.

Emha sangat disiplin dalam setiap hal. Jika malam tiba, sebagian penghuni Patangpuluhan terlelap, ia mengunci pintu sendiri dan mematikan lampu-lampu yang tidak perlu. Pagi-pagi sekali sudah berbasah-basah mencuci mobil sendiri. Di Patangpuluhan banyak sekali orang-orang yang dengan senang hati akan membantu, tapi Emha tidak akan pernah memberi perintah.

Setiap liburan sekolah Sabrang ke Jogjakarta diantar oleh tantenya: Sari dan (calon) pamannya, Agus, yang memang sedang kuliah di Jogjakarta. Tidak jarang saya harus menemani Sabrang jalan-jalan keliling Jogjakarta. Saat itu Sabrang sudah SMP. Ia senang jail. Malam hari, tiba-tiba sengaja ngilang di antara gerbong-gerbong kereta api Stasiun Tugu. Dia ngumpet, melihat saya yang kebingungan mencari kesana kemari. Perasaan saya teraduk-aduk, anak orang hilang, anaknya Emha lagi. Asem betul Sabrang.

Berjam-jam baru muncul. Dengan senyum yang jelek itu memburu saya. Saya tuntun kencang-kencang menuju arah Lesehan Malioboro, disana Emha, Arief Affandi dan yang lain-lain sedang kumpul-kumpul di depan kantor Biro Jawa Pos Jogjakarta.

noe

sok akrab dengan noe

Di tempat lesehan inilah sering berkumpul tokoh-tokoh yang sebagian (kelak jadi) penting. Ashadi Siregar, Djadug Ferianto, Doddy Ambari, Arif Affandi, Yusuf  ‘Dalipin’ Arifin, Whani Darmawan, Butet Kertarajasa, Umar Kayam, Yahya Staquf, Najib Azca, Rizal Mallarangeng, Erros Djarot, Indra Tranggono, Simon Hate, Toto Rahardjo, dan lain-lain.

Tiba-tiba dari arah kamar mandi terdengar suara: “Kepada hati itu aku terlena/Dimana kau berada, aku terbawa/Kepada hati itu ku terus mencoba/Dimana kau berada, engkau milik-Nya……” Asli. Itu bukan suara Noe Letto. Tapi suara rada sumbang karena flu, Sabrang Mowo Damar Panuluh. []

_________

*) Tulisan ini pernah dipublish, dengan berbagai editan di sana sini sebagai pemanis. Semoga ada manfaatnya.

9 thoughts on “Sabrang

  1. pasti bermanfaat pak…..
    oleh request gak bib….. dulu CN pernah bilang Sabrang pernah ngobrol2 dengan Iwan fals… kalau sampean tahu mbok di sharing obrolan2 cerdas itu…..

    • pernah dengar tp susah ngoreknya. saya konform ucapan Iwan Fals ke Sabrang dan mengiyakan. Iwan di panggung: “Kalo mau menghentikan hujan tanya sama Noe!”
      Iwan Fals memang sangat menyayangi Sabrang…

    • Wah nggak tau saya, bisa jadi iya. Tapi katanya sih, tmn2 kuliahnya yg manggilnya ‘Noe,’ krn kepanjangan namanya..

  2. mas sy pingin liat fotonya ibu neneng suryaningsih dong…kalau mas ada cerita tentang ibu nya noe shering to… matur suwun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s