Oleh-oleh, Dari Hong Kong?

Catatan: KangMunzir

Dalam kebersamaan selalu muncul hal-hal yang tak terduga. Bisa terjadi di mana saja. Pengalaman-pengalaman unik dan kadang bikin geli. Bisa dibayangkan, lima puluhan orang hidup bersama, saling interaksi. Jauh dari sanak famili di negeri orang: Hong Kong. Suka dan duka menyatu. Banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran. Untuk kematangan, kedewasaan semuanya.

Ini cerita ringan. Sekedar oleh-oleh. Agar olok-olok  khas Jakarta benar-benar bisa dinikmati. “Oleh-oleh, dari Hong Kong…..?”

Bodoh

Sejak usai Lebaran, September akhir 2009, secara berkala; crew dan talent film Minggu Pagi Di Victoria Park berangkat ke Causeway Bay, Hong Kong. Beberapa orang bagian produksi dan dari kantor, pulang balik Jakarta-Hong Kong, karena sesuatu hal harus diurus. Bahkan beberapa wartawan harian dan majalah juga ikut serta.

Saya yang baru tiba di Hong Kong titip dibelikan sesuatu sebagai kenangan. Harganya HKD 50. Kurs sekitaran Rp 1.250. Setelah mengucapkan terima kasih, dengan lugunya saya merogoh dompet dan mengulurkan Rp 50.000. Ini Hong Kong bung, mosok ngasihnya rupiah. Kurs-nya kurang lagi. Tindakan bodoh di negeri orang.

Handsome Juga

Jika kita penggemar film-film Hong Kong, nama Shaw Brothers pasti sangat familiar. Ini studio besar. Di studio inilah film-film hasil syuting di monitor.

Semua orang sudah kumpul mau lihat hasilnya. Mungkin karena ada gangguan teknis, diundanglah orang dalam yang memahami maintenance.

Dua orang berwajah oriental datang. Ganteng-ganteng juga ini orang. O ya, sebagian besar tim produksi adalah cewek. Jadi wajar saja kalau “Dua Lelaki Di Sarang Wanita” menjadi pusat perhatian.

“Yang belakang oke juga…!” celetuk seseorang.

“Cakepan yang depan!” timpal yang lain.

Jelas saja dua cowok itu tak paham. Lha kan ini Hong Kong, bahasanya ya tentu saja bahasa canton.

Setelah usai beres-beres, dua cowok cakep itu ngeloyor pergi, tanpa acuh sambil berucap: “Itu gara-gara William sih…!” Semua ternganga, ada juga yang merah padam. Dan secara koor tertawa. Itu bahasa Indonesia, sangat fasih lagi.

Cakep Ya

Dalam satu perjalanan Hong Kong – Jakarta (atau mungkin sebaliknya, Jakarta – Hong Kong), seorang wanita cantik dari team kami, berdesakkan mengantri urusan imigrasi. Membaur penumpang dari berbagai negara dan profesi. Tentu saja kebanyakan adalah orang Indonesia dan Hong Kong.

Orang Indonesia bermata, maaf, sipit, juga banyak yang pulang balik. Kadang susah membedakan dari warga negara mana; Indonesia atau Hong Kong. Namun sangat mudah untuk mengenali TKW (Tenaga Kerja Wanita). Wajahnya sangat Indonesia, kebanyakan Jawa. Stylist pakaiannyapun sangat khas. Tomboy atau feminin.

Tentu saja ada penumpang lain yang bukan TKW atau TKI (Tenaga Kerja Indonesia). Juga dengan berbagai kepentingan. Bisa seorang pelaut Indonesia, atau sekedar jalan-jalan. Tersebutlah beberapa cowok, muda dan trendy. Celetukan-celetukan sangat lokal Indonesia. Cowok-cowok ini ikut dalam antrian tadi.

“Wuih cantik juga!”

“Amoy nih, pasti orang Hong Kong!” Timpal kawannya.

Sasarannya adalah wanita cantik tadi, team kami. Merasa digoda, tentu saja harus menjaga image. Cuek, seolah tidak paham.

Usai urusan dengan imigrasi, cewek cantik ini mendekat sama para TKW, yang jaraknya tidak jauh dari para cowok penggoda.

“Mbak, yuk duluan. Mau naik apa?” tanya si cewek basa-basi, untuk menohok para cowok.

Jawaban para TKW tidaklah penting. Merah padamlah sang cowok. Lalu tertawa.

“Yuk Mas!”

“Ya, ya mari-mari Mbak!” []

(maaf belum rampung, masih under maintenance)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s