Rumah Patangpuluhan

Catatan Miring: Kang Munzir

[ S A T U ]

Ini kisah lama, cerita tentang saya dan Muhammad Ainun Nadjib atau Emha Ainun Nadjib.

Rumah kontrakan Emha terletak sebelah barat (belakang) Pasar Legi Patangpuluhan. Dari jalan raya Bugisan masuk sekitar 200 meter. Rumah dengan dua kamar, resminya di tempati tiga orang; Emha sendiri dan dua orang adiknya; Sariroh dan Innayah Al Wafi. Rumah yang sangat sederhana, bahkan kesannya kotor itu, bagai rumah singgah. Baik bagi keluarganya, kawan-kawan seniman, relasi-relasi dari luar daerah atau aktivis mahasiswa dan aktivis LSM. Rumah yang tidak pernah sepi, meskipun Emha sendiri sedang keluar kota.

Kalau boleh menyebut nama, kalangan dengan berbagai kepentingan yang datang ke rumah itu: Ishadi SK, saat itu Kepala Sta TVRI Jogjakarta; Arief Affandi, Kepala Biro Jawa Pos Jogja; Rizal Mallarangeng, Edi Edott Supriyadi, Mohamad Sobary, Ahmad Tohari, Erros Djarot, Ismet Hasan Putro, Arifin C Noor, Christine Hakim, Ayu Azhari, Alex Komang, KH Yusuf Hasyim, Gus Mus, Butet, Djadug, Indra Tanggono, Agus Noor, Ali Shahab, Umar Kayam… Bahkan hampir semua kalangan seniman Jogjakarta berinteraksi di Patangpuluhan.

Saya tidak tahu persis sejak kapan Emha bertempat tinggal di Patangpuluhan. Sebelum itu ia dengan kakak dan adik-adiknya tinggal di rumah kost Kadipaten Wetan. Empat sekawan (Empat E: Emha, Ebiet, Eko Tunas dan Ehaka) berproses di Kadipaten Wetan. Saya tidak akan bercerita tentang “Empat E” karena tidak ikut berproses.

Suatu hari kampus saya, Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, mengundang Emha untuk baca puisi. Emha mengusulkan Musik Puisi Teater Dinasti. Dengan iringan karawitan Dinasti, Butet Kertaredjasa baca puisi karya Emha bergantian dengan Arifin Brandan. Emha sendiri ternyata tidak ikut baca. Siapa-siapa saja pengiring karawitan ketika itu saya tidak begitu paham.

Sejak itulah, akhir 80-an, saya dan kawan-kawan kampus mulai berinteraksi dengan Komunitas Patangpuluhan. Bahkan salah satu kawan saya tidak mau pergi dari komunitas itu sampai sekarang. Ia kini menjadi keluarga Emha dan menetap di Kompleks TKIT Alhamdulillah –kini, tiap bulan tanggal 17 menjadi tempat diselenggarakan acara Mocopat Shalawat, salah satu acara rutin Emha di berbagi kota, yang diikuti ratusan bahkan ribuan  Jamaah Maiyah di Taman Tirto, Kasihan, Bantul.

Saat itu teater Dinasti Ampas –nama ‘Ampas’ diberikan Emha karena tokoh-tokoh Dinasti bergabung atau ikut dalam komunitas kesenian lain. Novi Budianto, Neneng Suryaningsih, Jujuk Prabowo, Butet Kertaradjasa dan yang lain mendirikan teater sampakan Gandrik. Joko Kamto dengan Teater Rakyat-nya. Bambang Isti Nugroho bergiat di LSM– sedang berproses akan mementaskan lakon karya Emha “Dokterandus Mul.” Bagi saya yang awam, lakon ini menarik karena didukung pula oleh Michael Bodden (sekarang profesor), orang Kanada yang interest terhadap seni dan budaya Indonesia. “Dokterandus Mul” sempat dipentaskan di TVRI Jogjakarta dengan pemain antara lain: Bambang Sosiawan, Agung Waskito, Sita, Jemek, Godor, Sius, Sariroh, Michael Bodden, Huri, Yono dan lain-lain.

Keterlibatan saya semakin dalam, sementara kuliah saya nonaktifkan dulu. Semua surat-surat undangan atau permohonan kepada Emha, baik ceramah, baca puisi, kolom media massa dan para tetamu yang berdatangan, seolah sayalah yang menangani, meski secara resmi tidak diminta.


Mohon maaf untuk nama-nama yang kelupaan atau salah menyebut:)

4 thoughts on “Rumah Patangpuluhan

    • Wenk, ini laman tak pernah di-update. Tulisan yg lbh detil bisa dicari di www. kenduricinta.com atau di fb-nya kenduri cinta :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s