M | A | N

Membaca Emha, Membaca Indonesia
Resensi Buku: Santi W. Kamil

SIAPAKAH Emha Ainun Nadjib?

Barangkali generasi masa kini lebih mengenal Sabrang Mowo Damar Panuluh alias Noe, anaknya yang vokalis band Letto itu. Paling tidak anak gaul jadi kenal Emha karena kerap disebut sebagai bapaknya si Noe. Saya sendiri sewaktu kecil lebih ingat suara Novia Kolopaking yang mengisi peran Dewi Anjani lewat sandiwara radio legendaris, Saur Sepuh.

Saya ingat pose Novia remaja di cover tabloid Monitor yang sudah almarhum. Saya juga ingat sinetronnya, Siti Nurbaya, yang ditayangkan TVRI. Namun, Muhammad Ainun Nadjib? Saya tahunya dia itu suami Novia Kolopaking. Hanya sesekali saya menyimak tulisan Cak Nun di media massa. Apa boleh buat, di negeri ini lebih gampang mengingat artis ketimbang budayawan.

Menyangka-nyangka Emha

Terlalu simplistis merumuskan Emha hanya sebagai budayawan. Sebab, kelahiran Jombang ini juga dikenal sebagai pekerja sosial yang rajin berkeliling menyapa masyarakat, memberi ceramah, dan mengisi pengajian. Selain itu, Emha juga menulis esai, kolom, naskah drama, puisi, cerpen, novel, lirik lagu, manggung bersama Kiai Kanjeng, menerima permintaan para orangtua untuk menamai bayi yang baru lahir, dan entah apa lagi. Sukar untuk menggambarkan Emha hanya dari satu sisi. Emha adalah manusia multidimensi.

Emha sendiri tidak berupaya menjelaskan siapa dirinya. Betapa sulit untuk mengenal diri sendiri. Butuh waktu sepanjang hayat. Itu pun tanpa jaminan bakal lebih mengenal diri sendiri. Seperti yang sekilas diungkapkan dalam tulisan Tak Mau Jadi Dewa Manusia (Awas Jadi Manusia Dewa) dalam buku Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki yang merupakan kumpulan esainya (diterbitkan Penerbit Buku Kompas, 2007). “Saya manusia lebih biasa lagi yang menangis sepanjang hidup karena jangankan orang lain, saya sendiri pun makin lama makin tak kenal saya. Saya salah sangka dan hanya menyangka-nyangka saja atas diri saya. Setengah abad lebih saya hidup sebagai dan menghidupi Muhammad Ainun Nadjib, sekarang makin hari saya makin jauh darinya, makin tidak mengenalnya, bahkan sering membenci dan mengutuknya” (hal. 30).

Bagaimana Emha sebagai penyair? Pernah kutulis puisi, ribuan, bahkan, tapi tak membuatku jadi penyair. Penyairku gagal total, tulisnya.  Sebagai penulis? “Pernah kutuliskan ribuan esai, kuterbitkan 52 buku, tapi paling jauh sekadar membuatku jadi penulis. Aku penulis, yang tak diakui oleh diriku sendiri. Apa itu penulis? Apa itu penulis, di hadapan Iqra~? … Penulis tak tahu malu. Penulis tak mengerti diri. Yang bangga jadi penulis, matilah sebelum mati” (hal. 38).

Dengan prinsip demikian, justru Cak Nun amat produktif menghasilkan tulisan. Dan, semua karyanya didedikasikan demi kepentingan sosial. Begitu selesai ditulis, Emha menganggap tulisannya sudah tamat. Penulis sudah mati. Tinggal pembacanya yang sibuk menyingkap makna tulisan Emha yang berlapis-lapis.

Menyangka-nyangka Indonesia

Seperti halnya Emha, Indonesia juga sedang menyangka-nyangka dirinya. Menyangka sudah merdeka. Mengira tengah bernegara. Menduga sedang berdemokrasi. Sepertinya amat religius. Tampaknya reformasi lagi dijalani. Sementara pada saat yang bersamaan, rakyatnya kehilangan orientasi. “Mencari Tuhan, yang didatangi dukun. Mencari ulama, yang dikejar pedagang. Mencari orang pandai, yang ditunggu pelawak. Mencari soto enak, pergi ke tukang tambal ban. Mencari pemimpin, yang dijunjung bintang film” (hal. 172).

Rakyat terjebak karena keliru melulu saat memilih pemimpin. Padahal, kriteria pemimpin sederhana saja: harus manusia. Pemimpin apapun, baik itu Presiden atau Lurah atau hanya sekedar memilih suami (hal. 67).

Persyaratan pemimpin harus manusia ini kerap diremehkan. Padahal, tidak setiap makhluk yang kelihatan seperti manusia itu adalah manusia. Menemukan yang sungguh-sungguh manusia itu tidak mudah. Manusia adalah makhluk menjadi. Makhluk yang terus menerus berproses. “Manusia belum tentu konstan berlaku sebagai manusia, bisa juga – pada momentum tertentu, pada kondisi psikologis tertentu, pada situasi perhubungan sosial tertentu, pada peristiwa tertentu – berlaku sebagai monster, kanibal, hewan, setan atau iblis” (hal. 61).

Kehidupan bernegara itu ibarat kehidupan rumah tangga. Pemerintah sebagai suami, rakyat sebagai istri. Namun rakyat Indonesia tak kunjung memilih suami yang manusia. Rakyat Indonesia adalah janda yang sepanjang sejarah menunggu untuk digilir diperkosa, simpul Emha. Pertama kawin dengan Orde Lama, namun dikhianati. Saat berganti suami Orde Baru juga masih bernasib sama, bahkan  itu berlangsung cukup lama. Lalu girang  karena bertemu suami baru bernama Reformasi. Ternyata suami baru ini, “lebih brutal, lebih tidak bermoral, lebih rakus, dan lebih terang-terangan untuk tidak bertanggung jawab” (hal. 130).

Akibat sejarah hidupnya itu, rakyat makin tak punya kepekaan. Tak tahu lagi apakah ia masih dicintai atau tengah ditelantarkan. Sementara yang beroleh rejeki dari kondisi ini adalah mereka yang bertengger di pemerintahan Indonesia. Emha menamai mereka Kiai Bejo, Kiai Untung dan Kiai Hoki, karena menangguk keuntungan meskipun tanpa bekerja (hal. 173). Lewat Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki, Emha tidak bermaksud sinis atau pesimistis. Melainkan hanya mencoba mengajak kita bersikap kritis. ***

Data Buku

Judul        : Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki

Penulis     : Emha Ainun Nadjib

Penerbit   : Penerbit Buku Kompas

Cetakan   : III, September 2007

Tebal        : vi + 258 halaman

________

Sumber: http://sindikatisola.com/buku/30/membaca-emha-membaca-indonesia

10 thoughts on “M | A | N

  1. Aku punya kenangan dng Cak Nun thn 81an,wkt itu dia kuboncengkan spd motor bututku untuk ngisi ceramah di asramaku Wisma Sarjana, demangan baru, jogja. Dia msh miskin,sederhana,tidak sombong.Aku tahu cak Nun wktu itu “sbenarnya membutuhkan uang honor ceramah di asramaku itu”. Tp baru belakangan aku tahu klo amplop yg diterima cak Nun ternyata hanya berisi surat ucapan terima kasih.Maaf cak. Alhamdulillah, Cak Nun sdh kaya dan sangat terkenal…mungkin dl sering ke-tulo2 dan mau prihatin sendirian di jogja- waktu itu bnyk seniman pd hijrah ke jkt, termsuk WS,Rendra. salam CAK!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s