SangPenari

Sang Penari

faricha farouk nurohma/cerpenis remaja

faricha

Cerita Pendek: Faricha Farouk Nurohma

Saya benar-benar nggak ngerti kamu, Pri. Kenapa kamu jadi berubah pikiran? Padahal, sebelum-sebelum ini, tepatnya selama setahun saya dekat denganmu sejak duduk di kelas dua SMA, kamu nggak pernah bersikap ‘aneh’ begini. Apalagi, sampai berniat kabur dari rumah Mbah Suro, orangtua angkatmu.

Saya bosan jadi gemblakan . Saya ingin berhenti. Saya capek. Malu sama teman-teman. Saya nggak mau lagi dicemooh seperti banci,” Pri nyerocos. Wajahnya ditekuk.
Saya terkesiap. “Berhenti jadi gemblakan?”

Ya, saya ingin jadi model. Modal jadi finalis coverboy, mungkin bisa membantu saya,” kilah Pri, sambil menyodorkan sebuah majalah remaja edisi terbaru, yang memuat fotonya di antara deretan foto finalis coverboy lain.

Saya sudah tahu kalau Pri memang masuk jadi finalis coverboy itu. Bahkan, saya sendiri yang pertama kali menyarankan Pri untuk ikut serta ajang para calon model remaja itu.

Pri menatap saya sejurus. “Menurut kamu gimana, Wina?”
Saya menghela napas. “Tapi, jadi gemblakan kata kamu lebih mulia karena….”
“Saya tahu,”
potong Pri. “Tapi itu dulu. Sekarang semua orang sudah nggak peduli. Apalah artinya gembalakan dibanding model yang selalu dielu-elukan banyak penggemarnya. Yang sehari bisa dapat puluhan sms, yang tiap saat bisa mudah muncul di teve, di majalah, jadi bintang iklan….”

Saya menelan senyum. Heran. Kenapa jalan pikiran kamu jadi berubah begini, Pri? Kenapa kamu yang dulu begitu mengagung-agungkan seni tradisi Reog Ponorogo, seni asal daerah jadi berbalik seratus delapan puluh derajat membencinya? Pemikiran macam apakah yang tiba-tiba menutup mata hatimu sehingga kamu jadi gelap mata terhadap seni tradisi Reog Ponorogo? Atau, mentang-mentang kamu sudah lolos jadi finalis coverboy sehingga kamu tiba-tiba ingin meninggalkan Reog dan begitu yakin akan bisa jadi model?

“Saya sudah bosan jadi anak angkat, Wina. Lagipula, saya malu jadi gemblakan terus. Saya pengen menjauh dari semua aktivitas perkumpulan reog milik Mbah Suro. Saya ingin jadi model dan hidup mandiri,” ujar Pri, serius. Kali ini, matanya tajam menghunjam wajah saya.

“Lho, nanti sekolah kamu gimana? Kan tanggung setahun lagi. Lagipula, memangnya gampang hidup sebagai model,” saya mengingatkan.
“Itu sih, gimana nanti saja.”

Saya cuma mengangkat bahu. Ini sungguh suatu kontradiksi. Sekarang ini, terus terang saja, saya sudah jatuh cinta berat sama seni reog. Dan rasa cinta itu lahir karena kamu, Pri. Kamulah orang yang pertama kali mengenalkan seni reog pada saya. Mulai soal estetika yang terkandung di dalamnya, sampai falsafah reog yang sarat dengan jiwa kepahlawanan. Bahkan, satu per satu dari fungsi Dadak Merak atau Barongan misalnya, saya hapal di luar kepala.

Nggak heran kalau kemudian saya jadi rajin menyaksikan atraksi Reog Ponorogo yang sering digelar di anjungan Jawa Timur – Taman Mini Indonesia Indah, di situ kamu ikut beraksi sebagai gemblakan atau jatilan. Kamu memang cowok yang ‘manis’. Wajahmu halus, berhidung mancung dan berkulit kuning langsat. Kerenlah pokoknya. Dulu, pertama kali saya melihatmu di sekolah, hati saya langsung kepincut. Bahkan, belakangan, setelah saya ‘resmi’ pacaran denganmu, saya makin terpuruk karena kamu ternyata punya sikap yang bisa dibanggakan. Boleh dibilang, kamu selalu bersikap lebih dewasa ketimbang usiamu yang baru tujuhbelas tahun.
Bayangkan, dalam usia yang sama dengan saya, kamu sudah seringkali memikirkan gimana cara melestarikan seni tradisi seperti Reog Ponorogo. Maka, tak heran begitu diajak Mbah Suro, seorang pemimpin Reog yang sudah lebih dulu pindah ke Jakarta kamu menurut saja.

“Yang penting saya tetap bisa sekolah,” ceritamu waktu itu.
Sang Ibu pun, yang menurutmu awalnya keberatan lantaran anak satu-satunya pergi, akhirnya mengizinkan karena kondisi ekonominya yang memang pas-pasan. Maklum, ia menanggungnya seorang diri.
Saya juga pernah mendengar ceritamu bahwa sejak SMP kamu sudah terbiasa jadi gemblak. Kamu sudah sering ikut ‘pentas’ ke beberapa tempat. Mulai dari acara kelurahan, kecamatan, sampai tingkat kabupaten.

“Jadi gemblak itu asyik,” katamu lagi, suatu kali. “Bisa jalan-jalan keluar daerah, ditonton banyak orang, dan yang penting dapat pengalaman.”
“Kalau sedang menunggang kuda kepang, apa yang kamu rasakan?”
tanya saya waktu itu.

Mata Pri berbinar. “Ya, saya bangga karena saya seringkali jadi pusat perhatian.”

Dan, entah keajaiban dari mana, sejak dekat dengan kamu, Pri, saya berangsur-angsur jadi tertarik dengan semua hal yang berbau reog. Sampai, saya nggak cuma rajin menyaksikan pertunjukan reog yang sering digelar di Taman Mini tapi juga mencari literatur atau bacaan yang berhubungan dengan reog.

Papa dan Mama sampai sering bingung, melihat kliping saya tentang reog.
Jadi kamu sudah berubah pikiran ingin jadi budayawan, ya?” sindir Mama.
“Sudah nggak kepengen lagi jadi ahli ekonomi, nih?” Papa juga ikut nimbrung.

Saya cuma menyungging senyum. “Sekarang ini kan profesionalisme di segala bidang lebih dihargai. Jadi budayawan juga nggak kalah saing sama ahli ekonomi. Buktinya, di Indonesia Emha Ainum Nadjib juga nggak kalah saing sama futuris ulung Alfin Tofler. Mungkin malah Emha yang lebih top,” saya membela diri. Seperti biasa, Mama dan Papa cuma senyum-senyum saja.
Begitulah. Saya terus memburu literatur tentang reog. Terutama hal-hal yang menyangkut gemblak. Karena asal-usul gemblak ini justru yang nggak jelas.

Gemblak sendiri, adalah bocah laki-laki yang ‘dipiara’ oleh seorang warok atau tetua dalam perkumpulan reog. Ia, pada umumnya haruslah cowok yang elok parasnya. Dalam reog, ia berfungsi sebagai penunggang kuda kepang.
Maka, nggak heran kalau kemudian gemblak ini identik dengan banci. Pri, awalnya juga nggak tahan dengan ledekan banci yang dilontarkan teman-temannya di sekolah begitu mereka tahu ia seorang gemblak. Sampai sekarang pun, saya sendiri sering mendengar olok-olok teman yang ditujukan pada saya.

“Ngapain sih pacaran sama dia. Tahunya cuma reog, kapan jalan-jalan ke mal atau nonton di 21?” cibir Sari, teman satu kelas saya.

Saya sudah sangat maklum terhadap tekanan-tekanan murahan seperti itu. Sedikit pun nggak terpengaruh. Bagi saya, Pri adalah Pri. Saya menyukainya bukan karena dia cakep, tapi karena saya memang menyukainya. Nggak ada embel-embel lain. Bahwa, kepeduliannya akan seni reog yang menyulut api cinta saya, memang benar adanya. Tapi, itu pun lebih karena faktor kesamaan visi atau wawasan.

Tapi sekarang? Ah, saya benar-benar jadi nggak mengerti. Tiba-tiba Pri ingin jadi model dan meninggalkan perkumpulan seni reognya hanya karena fotonya termasuk di antara belasan finalis coverboy sebuah majalah remaja.
Saya jadi larut dalam kesedihan. Memang, reog bukanlah apa-apa bagi keluarga saya, terutama Mama dan Papa yang tiap hari bergelut dengan bisnis real estate-nya. Tapi, saya pribadi merasa seperti menanggung beban tersendiri jika Pri sampai meninggalkan perkumpulan reognya. Siapa lagi yang akan jadi maesenas seni tradisi kalau….

“Menurut kamu gimana kalau saya ganti menekuni profesi sebagai model?” Pri mengulang pertanyaannya, pada suatu kesempatan yang lain.
Saya mengangkat bahu. “Apa bedanya sih, model sama gemblakan?”
“Beda jauh dong, Wina. Gemblakan adalah gemblakan, model ya model.”
“Tapi gemblakan juga punya sisi mulia karena ia ikut berperan melestarikan seni tradisi, Pri. Bukankah, kamu juga pernah mengatakan hal ini pada saya dulu?” Saya berusaha mengingatkannya.

Sesaat Pri terdiam. “Memangnya kamu nggak malu punya cowok gemblakan seperti saya?”
“Kenapa mesti malu, Pri. Kalau memang malu, saya sudah kabur dari kamu sejak dulu,” saya memberengut.

Untuk waktu beberapa saat kami saling diam. Pikiran saya terbang ke buku Babad Ponorogo, yang mengungkap asal-usul daerah Ponorogo dan tetek-bengek reognya. Juga statement sejarawan Onghokham yang mensinyalir bahwa gemblak di Ponorogo memang pernah ada yang mengalami hubungan erotis dengan warok atau tetua reog. Tapi itu kan dulu. Fungsi gemblak sekarang ini adalah lebih sebagai anak asuh. Anak angkat. Seperti yang dilakukan Mbah Suro pada Pri. Dan saya memang nggak peduli dengan semua hal itu. Entahlah, mungkin karena saya terlanjur jatuh hati pada Pri.

Saya menangkap Pri sejurus. Pri juga melakukan hal yang sama. “Kalau bisa, kamu jangan berhenti jadi gemblak dulu, Pri. Gimana kalau kamu jalani saja dua-duanya,” usul saya.
“Tapi, kita kan nggak bisa mengerjakan dua hal sekaligus, Wina. Mana mungkin….”
“Mungkin saja,” potong saya. “Kan aktivitas model dan reog sifatnya cuma insidental. Nggak setiap hari dan nggak selalu berbarengan. Dan bukankah kedua-duanya ada di jalur seni yang nggak jauh berbeda?”

Refleks, mata Pri berbinar. Saya sendiri heran, entah dapat ide dari mana bisa mengutarakan jalan alternatif itu.
Pri menghela napas dalam-dalam. “Mungkin saya harus mencobanya,” putus Pri.

Saya mengangguk. Menyungging senyum yang beberapa hari belakangan ini sulit saya tebarkan. Memang, kendati, kadang sulit menebak jalan pikiranmu, rasanya saya mulai mengerti.[]

Faricha Farouk Nurohma, lahir 25 Mei 1993 di Jakarta. Penulis remaja berwajah manis yang masih menuntut ilmu di SMP 107 Jakarta ini terlahir dalam lingkungan keluarga yang karib dengan dunia kepenulisan. Ayahnya, Noerdin Es. Er. adalah mantan wartawan senior di majalah Gadis, dan mantan pemimpin redaksi di majalah Anita Cemerlang, sekaligus owner majalah musik franchise M&G. Sejak kecil model remaja ini sudah getol membaca. Selain membaca dan menulis, ia senang modeling, JJS di mal, shopping di distro, nonton film, dan browsing di internet.

Sumber: http://www.cafenovel.com/shortstory_sangpenari.php

One thought on “SangPenari

  1. Bagus ceritanya😉 seharusnya si wina bisa lebih memotivasi lagi agar si pri tidak meninggalkan seni Reognyaaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s